Permainan Indonesia jauh dari yang diharapkan sebelumnya. Target seri yang dipasang sebelumnya harus dibuang jauh-jauh saat pertandingan baru berjalan 10 menit sudah kebobolan 2 gol terlebih dahulu lewat gol Takagi Toshoyuki menit ke-3 dan Nagai Ryo menit ke-10. Timnas Indonesia sempat mencoba membalas dengan melakukan serangan-serangan spartan ke daerah pertahanan Jepang. Tapi, para pemain belakang Jepang masih terlalu tangguh untuk dilawan para striker mungil Indonesia. Bukannya gol yang tercipta, malahan kebobolan yang bertambah lewat Kato Masaru di menit ke 40. Skor 3-0 bertahan sampai akhir babak pertama.
Dibabak kedua, ibarat sebuah tim yang sudah putus asa, akhirnya menjadi bulan-bulanan tim lawan. 4 gol lagi tercipta dibabak kedua melalui Takagi Toshiyuki pada menit ke-53 dan 56, Takahashi Shohei pada menit ke-55, serta Nagai Ryo pada menit ke-71. Permainan timnas Indonesia benar-benar jauh dari yang diharapkan, ditambah mental para pemain yang sudah drop sekali.
Kalo menurut saya, lebih baik kalah WO 3-0 dari pada harus cape-cape bertanding, dan bukannya kalah lagi yang didapat, melainkan rasa malu karena bermain dikandang dan caci maki yang didapat oleh para pemain-pemain timnas U-19 Indonesia ini.
Padahal, dipartai sebelumnya melawan singapura, saya masih berharap banyak pada sekumpulan anak-anak muda ini. Dalam hatiku, yah bolehlah, kan baru 2 tahun berlatih di Uruguay. Masih ada 2 tahun lagi kesempatan belajar dan menimba ilmu disana. Tapi, setelah pertandingan melawan Jepang yang berakhir tragis 7-0 ini, pupus sudah harapan saya. Beginilah harapan kata pak ketua PSSI Bapak Nurdin Halid yang mencanangkan tahun 2018 kita menjadi juara piala Asia, dan ditahun 2022 menembus piala dunia? zzzzz...Boro-boro masuk piala Asia, wong tahun 2007 lalu aja, kalau bukan dengan status tuan rumah jangan berharap kita bisa masuk babak pengisihan piala Asia waktu itu. Nah, kini setinggi harapan yang dibebankan kepada anak-anak U-16, yang sekarang sudah turun di U-19 untuk mewujudkan harapan yang menurut saya lebih cocok disebut dengan hayalan belaka itu.
Cara bermain saat melawan Jepang, saya melihat semua pemain timnas kita tampil sangat buruk. Terutama penjaga gawang Beny Yoewanto, yang bisa dibilang seperti seorang yang baru belajar menjadi penjaga gawang. Kesalahan-kesalahan mendasar banyak dilakukan, termasuk mungkin sangat gugup saat menghadapi tendangan-tendangan keras dari para pemain Jepang. Mungkin dia (Beny) tak perlu jauh-jauh bersekolah ke Uruguay. Mungkin lebih cocok dia bermain saja di liga Indonesia. Toh semua tim-tim di liga Indonesia umumnya memasang 2 striker asing. Jadi tak perlu jauh-jauh untuk belajar menangkap bola.
Ada juga yang memberikan pedapat, bahwa Indonesia tidak akan pernah maju kalau para pemain-pemainnya umumnya berasal dari perdesaan. Menurut saya, masuk akal juga. Dengan postur pas-pasan, jangan harap mau menang. Coba tengok negara mana yang bisa hebat jika postur para pemainnya hanya memiliki tinggi badan rata-rata 160-an cm? Tapi menurut saya, mungkin Indonesia memang belum ditakdirkan untuk menjadi macan asia. Perlu >20 tahun atau 2 generasi lagi untuk menciptakan bibit-bibit muda baru. Tidak ada cara yang instan. Yah, mungkin istilahnya sudah mentok kali ya, diajarin bagaimanapun tidak akan banyak membawa perubahan. Berguru sana-sini, hasilnya 0 besar.
Saran saya, barangkali bisa diterima ketua umum PSSI, lihat saja hasil total dari kualifikasi piala Asia u-19 ini. Jika terlalu mengecewakan, lebih baik proyek bersekolah di Uruguay dihentikan saja. Sisa anggarannya disalurkan untuk membantu proyek pemain dalam negeri saja. Toh misal 2 tahun sisanya akan tetap dilanjutkan, siapa yang bisa menjamin kemampuan kita akan melebihi tim sekelas Jepang sekarang? Kalau Cuma mau menjadi raja Asean saja, saya kira tidak perlulah buang-buang 12,5 M per tahun. Naturalisasi saja beberapa pemain asing buat mendongkrat daya gedor timnas nantinya. Simpel bukan? Malahan lebih hemat.
Atau, menurut saya, akan lebih efektif jika kita mengirimkan timnas ke Jepang atau Korea selatan saja, yang memang sudah dikenal sebagai macan asia. Toh mereka juga bisa mengimbangi kekuatan-kekuatan eropa atau amerika juga. Jadi istilahnya, lebih efektif dan efisienlah. Toh sekolah jauh-jauh juga ntar kan balik lagi main di liga tarkam maksudku liga Indonesia). Tuh sudah banyak koq tim-tim lokal yang mencari-cari celah buat mendapatkan tandatangan para pemain yang sementara sekolah di Uruguay ini, agar setelah habis masa bakti 4 tahunnya, sudah bisa bergabung dengan mereka. So? Emas yang sudah dibersihkan menjadi mengkilap bisa menjadi kotor kembali.
Indonesia: Yuwanto Stya Beny (kiper), Yericho Christiantoko, Ferry Firmansyah, Mokhamad Syaifudin, Abdul Rahman Lestaluhu, Yandi Sofyan, Alan Martha, Mochamad Zaenal Haq, Rizki Ahmad Sanjaya, Vava Mario Zagalo, Alfin Ismail Tuasalamoni
Pelatih: Cesar Payovich.
Jepang: Nakamura Hayato (kiper), Tanaka Masaki, Takahasi Shohei, Kikuci Daisuki, Musaka Mitsunari, Oghihara Takahiro, Kato Masaru, Furuta Hiroyuki, Takagi Toshiyoki, Nagai Ryo, Iwata Shuhei
Pelatih: Nuno Keiichiro.
Kualifikasi Grup F Piala Asia U-19, Jepang vs Indonesia 7-0
Posted by sanman | 11/09/2009 | Catatan OLAHRAGA Saya | 0 comments »Kualifikasi grup F Piala Asia U-19, Macth Day 1, Indonesia vs Singapura 0-1
Posted by sanman | 11/07/2009 | Catatan OLAHRAGA Saya | 3 comments »Nasib buruk kembali menimpa timnas Indonesia. Setelah tim senior Indonesia tak lama baru dikalahkan tim Singapura senior 3-1, kini nasib timnas junior U-19 pun tak jauh berbeda, dikalahkan 0-1 oleh timnas U-19 Singapura, di stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Sabtu (07/11) petang. Gol kemenangan Singapura dijaringkan Madhu M. Mohana pada menit 68.
Padahal sejak awal-awal pertandingan, timnas U-19, yang keseluruhan anggota timnya adalah dari bentukan dari SAD Indonesia U-16 yang bermain di Quinta Division Uruguay, begitu mendominasi permainan. Bahkan tercatat sedikitnya 5 peluang emas yang dapat dikonversikan menjadi gol jika saja para pemain lebih tenang. Paling tidak, tim Singapura sangat tertekan di babak pertama dan condong bermain negative football akibat serangan yang begitu deras yang dilancarkan tim Indonesia.
Di babak kedua, awal petaka terjadi. Gol Singapura bermula dari umpan Muhamad Raihan di sayap kanan pertahanan Indonesia. Umpan diterima Muhammad Safuwan yang meneruskannya kepada Madhu, yang tak kesulitan menyontek bola kedalam gawang yang dikawal Beny Stya. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi, apabila barisan pertahanan Indonesia tidak maju semua, seolah-olah ingin menciptakan jebakan off-side. Akhirnya petaka berbuah, senjata makan tuan.
Alhasil, karena ketinggalan sebiji gol, cara permainan pun berubah. Timnas U-19 yang di babak pertama bermain bagus, kini bermain kacau. Berbagai serangan tidak tertata, dan barisan pertahanan pun longgar. Kerap kali beberapa serangan anak-anak Singapura membahayakan gawang Indonesia. Untung saja tidak terjadi penambahan gol dari timnas Singapura, dan berlangsung sampai peluit akhir dibunyikan.
Tapi menurut saya, dengan melihat cara bermain yang diperagakan timnas U-19 Indonesia ini sepanjang 2 x 45 menit, saya sangat menaruh harapan besar kelak kedepannya. Gaya bermain anak-anak sudah cukup memperlihatkan bagaimana cara bermain amerika latin itu. Dasar-dasar fundamental sepakbola modern sudah mulai tertanam selama 2 tahun awal berlatih di Uruguay. Dengan ikut terjun di kompetisi lokal Quinta Division, kerja sama tim semakin terlihat. Padahal, mayoritas usia mereka baru 16-17 tahun, lebih muda setahun dari mayoritas tim lawan yang sudah 18+.
Tak hanya saya, bahkan seluruh rakyat Indonesia menaruh harapan terhadap generasi emas yang berlatih di Uruguay ini. Sampai-sampai begitu medengar kualifikasi grup F Piala Asia 2010 dilangsungkan di Indonesia, stasiun TV nasional, TV One menyiarkan secara live semua pertandingan yang akan dimainkan timnas Indonesia. Yah, ini baru pertandingan pertama. Masih ada 4 pertandingan lain yang akan dimainkan. Peluang masih ada. Jadi, ayo tunjukkan kepada segenap bangsa Indonesia, kalau kalian memang adalah Golden Generation Timnas Indonesia di masa mendatang!
Inilah susunan skuad timnas Indonesia U-19 yang diturunkan melawan timnas U-19 Singapura:
Skuad Indonesia: Beny; Tuasalamony, Syaifuddin, Yericho; Firmansyah, Haq, Pellu; Lestaluhu, Munawar (Ohorella'75), Alam, Yagalo.
Skuad Singapura: Neezam; Safuwan, Azfar, Shakir; Raihan, Safirul (Faiz'85), Eugene (Nazrul'55); Syafiq, Muhaymin (Ahmad'80), Haziq, Madhu.
Jadwal selanjutnya Kualifikasi Grup F Piala Asia U-19 2010:
Match Day 1, Sabtu, 7 November 2009
Indonesia vs Singapura, Jepang vs Cina Taipei, Australia vs Hong Kong
Match Day 2, Senin, 9 November 2009
Jepang vs Indonesia, Singapura vs Hong Kong, Cina Taipei vs Australia
Match Day 3, Kamis, 12 November 2009
Cina Taipei vs Indonesia, Australia vs Singapura, Hong Kong vs Jepang
Match Day 4, Sabtu, 14 November 2009
Singapura vs Jepang, Hong Kong vs Cina Taipei, Indonesia vs Australia
Match Day 5, Selasa, 17 November 2009
Australia vs Jepang, Hong Kong vs Indonesia, Cina Taipei vs Singapura
NB: Seluruh pertandingan babak kualifikasi grup F akan dimainkan di Indonesia.
Prestasi terakhir timnas Indonesia yang dapat dibanggakan adalah medali emas SEA Games Manila 1991. Saat itu, trio pelatih Anatoly Polosin, Vladimir Urin, dan Danurwindo menerapkan sistem pelatnas jangka panjang berupa latihan fisik yang berat bagi para anggota skuad timnas. Pelatnas yang dilakukan selama beberapa bulan itu banyak diserang kritik, namun akhirnya semua bungkam saat medali emas dikalungkan ke leher kapten Ferril Raymond Hattu.
Model pelatnas jangka panjang juga sudah dikenal pada era Tony Pogacnik. Menjelang Asian Games 1962, dibentuk dua tim, Indonesia Banteng dan Indonesia Garuda, yang bermaterikan para pemain senior dan pemain muda. Kompetisi yang terbangun di antara kedua tim dipercaya menghasilkan pemain berkualitas terbaik yang akan membawa Indonesia berjuang merebut medali emas cabang sepakbola dalam pesta olahraga terbesar Asia itu.
Bisa dibilang, pelatnas jangka panjang adalah metode utama yang digunakan untuk membentuk timnas yang tangguh. Contoh terakhir adalah pelatnas yang dijalankan Ivan Kolev menjelang Piala Asia 2007, sehingga menghentikan kompetisi Liga Indonesia selama tiga bulan penuh
Pada awal 1980-an, muncul terobosan dari Ketua Umum PSSI Ali Sadikin dengan mengirimkan timnas berlatih ke Brasil. Pilihan ditempuh karena timnas Merah-Putih mulai kering prestasi, terakhir menjuarai Piala Anniversary di Jakarta, 1972. Tim dikenal dengan nama Indonesia Binatama. Proyek ini sempat berjalan selama enam bulan. Akibat bermasalah dengan kualitas pelatih, proyek dihentikan.
Ide pengiriman tim berlatih ke luar negeri kembali tercetus pada era kepemimpinan Azwar Anas, pertengahan 1990-an. Demi cita-cita tampil di pentas dunia pada 2002, Indonesia mengirimkan tim untuk mengikuti kompetisi di Italia. Bedanya, kali ini tim yang dikirimkan adalah tim yunior. Kelak tim tersebut dikenal dengan nama kompetisi U-19 yang mereka ikuti, Indonesia "Primavera".
Proyek tersebut diulangi setahun kemudian dengan mengirimkan tim mengikuti kompetisi U-16, dan tentu saja dikenal masyarakat dengan nama Indonesia "Barretti". Setali tiga uang dengan proyek Brasil, generasi Primavera dan Barretti gagal membuahkan prestasi yang gemilang.
Cita-cita menyaksikan anak negeri bermain di pentas sepakbola dunia ternyata terus hidup sepanjang masa. Pada 25 Januari 2008, dikirim 25 pemain timnas Indonesia U-16 untuk mengikuti kompetisi taruna Quinta Division di Uruguay. Proyek tersebut direncanakan berlangsung selama empat tahun. Di Uruguay, tim muda Indonesia akan dilatih Cesar Payovich Perez dan asisten Jorge Anon. Proyek menelan dana Rp12,5 miliar per tahun dan bertujuan mencetak pemain Indonesia yang berkualitas, bukan sebuah tim seperti generasi Primavera dan Barretti terdahulu.
Soal pendidikan yang menjadi hak dari para pemain muda tersebut, Ketua BTN Rahim Soekasah berjanji akan mendaftarkan mereka ke Sekolah Ragunan dan pendidikan akademik dilakukan dengan sistem modul.
Tim juga direncanakan berujicoba keliling Asia pada Juli 2008, saat kompetisi sedang libur, dan diakhiri dengan bertanding di stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Namun, rencana tersebut tidak kesampaian. Bahkan untuk mengikuti Piala Asia U-16 di Uzbekistan, akhir tahun silam, alih-alih mengirimkan tim dari Uruguay, PSSI memutuskan mengirim tim hasil seleksi lokal.
Pada tahun pertama, "SAD" [kependekan dari Sociedad Anonima Deportiva -- secara harfiah berarti "korporasi olahraga"] Indonesia mengikuti kompetisi mulai Maret hingga November 2008. Selama kompetisi tersebut, SAD Indonesia bertanding 23 kali, dengan rekor enam kemenangan dan sisanya kalah. Berkat hasil tersebut, tim masa depan Merah-Putih berada di posisi ke-19 klasemen akhir Quinta Division. Klub tangguh Uruguay, Danubio, menjuarai kompetisi.
Ketika masa kompetisi usai, tim pulang ke Indonesia beserta pelatih Cesar. Sambil beristirahat dan menjalankan program pribadi, Cesar berkeliling Indonesia untuk mencari pemain baru yang akan disertakan dalam tim tahun kedua. Seleksi dilakukan dan hasilnya tujuh pemain baru tampil menggantikan para pemain yang tercoret.
Kompetisi tahun kedua sudah berjalan sejak 14 February 2009
Masih panjang jalan generasi Uruguay ini untuk menjadi pemain yang bisa dibanggakan Indonesia. Dan, meski harus terus menunggu, harapan tetap akan tumbuh...
Anggota Tim Tahun Pertama:
Kiper: Alwi Syahrul Karim, Tri Windu Anggono, Dimas Galih Pratama.
Bek: Taji Prashetio, Reza Inas Setiarachman, Yericho Christiantoko, Imam Agus Faisal, Reffa Arvindo Badherun Money, Sutanto, Ferdiansyah, Alfin Ismail Tuasalamony.
Gelandang: Mochammad Zainal Haq, Ridwan Awaludin, Davitra, Feri Firmansyah, Finky Pasamba, Lutfi Hidayat, Ismail Marzuki, Mochammad Chairudin.
Penyerang: Novri Setiawan, Alan Martha, Burhanudin Bayu Saputra, Yandi Sofyan Munawar, Sahlan Sodik, Syamsir Alam.
Anggota Tim Tahun Kedua:
Kiper: Tri Windu Anggono, Dimas Galih, Beny Stya Yoewanto.
Bek: Yericho Christiantoko, Reffa Arvindo Badherun Money, Mokhamad Syaifudin, Sedek Sanaky, Alfin Tuasalamony, Ferdiansyah, Taji Prashetio, Imam Agus Faisal.

Jakarta - Dianggap melanggar beberapa ketentuan yang berlaku, pemerintah China akhirnya mencabut ijin operasional game online terbesar, World of Warcraft.
Seperti dikutip detikINET dari Gamespot, Selasa, (3/11/2009). NetEase sebagai penanggung jawab kelangsungan hidup World of Warcraft di Cina, dianggap pemerintah setempat sudah melakukan beberapa pelanggaran berat.
Akibatnya, para pejabat dari General Administration of Press and Publication (GAPP) mencabut izin operasional untuk World of Warcraft sekaligus menolak kehadiran game anyar Activision, Burning Crusades.
Jika World of Warcraft ditutup secara permananen di Cina, hal itu tentunya akan mempengaruhi waralaba pendapatan perusahaan induk Blizzards, Activision Blizzard. Mengingat NetEase adalah pengelola game online no 2 terbesar di China.
Sumber: www.detik.com
Menurut saya, game sepopuler Wacraft janganlah ditutup ditutup disana. Sayang alasan ditutupnya tidak dibeberkan ke publik. Mungkin ini bagian dari keadaan politik disana yang tidak kondusif buat perusahaan asing.
Sewaktu awal bulan januari tahun 2009, banyak warnet yang mulai buka akibat demam facebook.Tapi kini, saking banyaknya warnet baru, malah akhirnya semua warnet terancam bangkrut. Inilah perilaku warga didaerah saya. Dimana ada gula disitu ada semut. Dimana ada peluang pasar, disitu akan ada usaha. Padahal harusnya yang turut menjadi bahan pertimbangan sebelum membuka usaha adalah efek jangka panjangnya itu seperti apa. Apakah jenis usaha ini tahan lama atau tidak (Cuma musiman).
Pemerintah yang seharusnya menjadi “pengatur” malah lebih terkesan diam saja. Padahal, bukan Cuma jenis usaha warnet saja, tetapi semua jenis usaha, seperti restaurant, hotel, toko, supermarket, bisnis travel/penjualan tiket pesawat, dan berbagai macam bisnis usaha lainnya, yang kesemuanya harus ditata sebaik mungkin, agar jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit, agar tidak terjadi monopoli. Jika suatu usaha bangkrut akibat terlalu banyak pesaing, efek jangka panjangnya adalah pemasukan pajak ke pemerintah berkurang, tenaga kerja menjadi pengangguran, tingkat kerawanan naik, kemiskinan pun akan ikutan naik, karena masyarakat tidak memperoleh pendapatan. Ujung-ujungnya pemerintah juga yang rugi. Maka dari itu, pemerintah haruslah menciptakan efek berusaha yang kondusif.
Semuanya menurut pemikiran saya, haruslah ditata (dibatasi), dengan menghitung jumlah penduduk dan pangsa pasar disuatu daerah tersebut. Akibatnya, misalnya sebuah hotel, yang didalam suatu daerah mencapai puluhan, sedangkan didaerah itu jumlah penduduknya terbatas, dan potensi wisatanya juga kurang, ya mana bisa maju. Apalagi menurut perhitungan umum tingkat hunian hotel-hotel, minimal rata-rata harus terisi paling kurang 50% dari total kamar yang ada. Kalau dibawah itu dan berlangsung lama, alias egk naik-naik, ya tinggal tunggu waktu saja untuk gulung tikar. Hal ini berarti bagi penanam modal, merupakan langkah yang sia-sia, dan modal mereka terbuang percuma.
Akan sama halnya juga dengan usaha warnet. Dengan modal yang relatif cukup kecil, seseorang sudah dapat membuka usaha warnet sendiri. Bagus, untuk dari segi entrepreneurship/kewirausahaan. Tapi menurut saya, adalah pemikiran kurang matang. Jangan karena hanya melihat bahwa satu warnet banyak pelanggannya, lantas mengambil kesimpulan bahwa berarti semua warnet juga akan sama banyak pelanggannya. Ia harusnya menganalisis kapan bisa balik modal, atau malah patah ditengah jalan, akibat menurunnya jumlah pelanggan dan begitu banyaknya pesaing yang ada. Begitupun dengan pemilihan lokasi, jika berada di dekat sekolah, mall, atau tempat-tempat ramai lainnya, akan lain ceritanya. Tapi jika lokasi warnetnya cuma dilorong?
Ilustrasinya begini, misal didaerah A, tepatnya dijalan B, berdiri sebuah warnet C dengan berdaya tampung 20 unit. Rata-rata pelanggan hariannya adalah 100 orang per hari. Jika harga perjam internetnya Rp 5000, dan rata-rata orang menggunakan 1 jam saja, berarti 100 x Rp.5000 = Rp.500.000 omzet hariannya. Tak lama berdiri juga sebuah warnet D tak jauh dari lokasi warnet C. Asumsinya, pelanggan terbagi 2, menjadi 50 orang per hari. Omzetnya pun bisa saja terbagi 2, yaitu menjadi Rp. 250.000 per hari. Ya katakanlah ada pelanggan dari luar wilayah itu, sebanyak 20%, atau 20 orang (100 x 20%). Omzet tambahannya 20 x Rp5000 = Rp.100.000, atau Cuma sebanyak Rp.50.000 apabila sudah ada 2 warnet disatu lokasi. Jadi total omzetnya Rp.250.000 + Rp.50.000 = Rp.300.000/hari.
Nah, belum lagi jika berdiri lagi warnet E, F, G, dan seterusnya. Tinggal dibagi saja total omzet rata-ratanya. Belum juga dipotong “efek jenuh pelanggan”, atau bahasa lainnya pelanggan sudah bosan untuk membuka akun FBnya. Hal ini yang sebenarnya paling ditakuti warnet. Jika pelanggan berkurang, efeknya dalah omzet berkurang. Jika dilihat, semakin kecil bukan? Nah apa jadinya bisa omzet sudah tidak mencukupi lagi untuk membayar kebutuhan operasional? Jawabannya adalah bangkrut.
Hal ini semoga semakin membuka wawasan kita, bahwa begitu pentingnya kata PERENCANAAN. Jangan hanya melihat suatu usaha maju, lantas mengikutinya kayak bebek, tanpa mempertimbangkan unsur resiko dan efek jangka panjangnya. Akibatnya bisa fatal. Untung-untung bisa pulang pokok, kalau tidak? Sedangkan kata pulang pokokpun sebenarnya diasumsikan rugi, karena bila kita depositokan, paling tidak akan terdapat untung dari bunga bank. Akhir kata jika ada koreksi, tambahan, atau masukkan dari pembaca dapat diposting bagian dibawah tulisan ini sebagai komentar. Terima kasih!
Berhubung demam facebook belum habis melanda dunia ini, termasuk di Indonesia, kini warnet pun makin hari makin menjamur. Sayang, kadang kala kualitas sebuah warnet sudah terlalu dibawah standar, termasuk kinerja operatornya (penjaga warnet).
Sebuah warnet haruslah tetap menjaga kualitasnya, seperti pelayanan yang prima, ruangan yang representative, fasilitas-fasilitas pendukung yang memadai, termasuk spek computer yang layak pakai.
Seorang operator harus bisa menjaga sikap dan nama baik warnetnya. Seorang operator menjadi ujung tombak maju tidaknya sebuah warnet. Seorang operator juga mencerminkan bagaimana sikap pemilik warnetnya (bos) dan para tamu yang datang. Alasannya, jika seorang operator sifatnya buruk, tidak mungkin sang pemilik akan mempekerjakannya, kecuali sang pemilik juga bermental buruk. Demikian halnya dengan para tamu yang sering nongkrong di warnet itu, tidaklah mungkin tamu-tamu bermental preman atau pencuri, kecuali operatornya juga bermental yang sama. Seorang operator juga dituntut punya daya respon yang tinggi, dan punya dedikasi yang baik bagi kemajuan tempat kerjanya.
Sebuah warnet juga harus memperhatikan kebersihannya. Usahakan agar didalam warnet tidak boleh merokok, baik warnet itu memiliki AC ataupun tidak. Alasannya sederhana, asap dan puntung rokoknya tentu tidak baik bagi kesehatan. Tentu juga akan membuat meja dan lantai menjadi kotor. Sebuah harga mati bagi Admin/OP warnet agar tidak boleh merokok sementara bertugas. Alasannya, kalau anda merokok, pastilah para tamu yang datang pasti akan ikut merokok juga.
Alangkah baiknya sebuah warnet dilengkapi fasilitas-fasilitas yang memadai, seperti mempunyai AC, Exhouse, baling-baling, kipas angin, kamar mandi, CCTV/kamera pemantau, penerangan yang baik, dll. Termasuk juga keamanan dilingkungannya. Tidak ada tamu yang mau masuk ke warnet anda jika disekeliling warnet anda banyak premannya, atau tidak punya lampu jalan, di lorong yang gelap, dll.
Selanjutnya adalah kualitas spek computer yang digunakan, tentunya haruslah memenuhi standar pemakaian yang layak. Jangan hanya karena ingin menekan cost lalu anda memakai spek palsu dan bekas. Spek yang menjadi standar antara lain:
1. keyboard standar (disarankan ujung kepala bulat/PS2, jangan yang usb),
2. mouse standar (disarankan ujung kepala bulat/PS2, jangan yang usb),
3. speaker standar saja,
4. layar LCD (jangan tabung CRT, sudah egk zamannya lagi, bikin sakit mata aja),
5. RAM minimal 1GB (lebih tinggi lebih bagus),
6. Harddisk min 80GB (lebih tinggi lebih bagus),
7. Mother board Asus (ini merknya macam2, tapi disarankan pilih yang umum2 saja),
8. Procecor dual core (lebih tinggi lebih baik, seperti core 2 duo dll, bisa saja memakai AMD atau intel atom)
9. VGA chip Geforce GS series min 256MB (lebih tinggi lebih baik, karena tujuan dari pemasangan VGA adalah untuk meringankan kinerja motherboard dalam memproses gambar/video beresolusi tinggi)
10. Power supply ATX (400/450watt)+ casing dengan body yang tebal, jangan ambil yang tipis)
11. Disarankan tidak menggunakan drive VCD, karena bukan untung malang puntung karena sering rusak dan tidak terlalu penting, karena sudah ada media flash disk)
Demikian standar-standar sebuah warnet yang baik. Jika anda yang berniat membuka warnet, uraian diatas bolehlah menjadi bahan pertimbangan anda. Juga baik yang sudah memulai usahanya dibidang warnet ini, kiranya uraian diatas boleh menjadi masukan bagi kemajuan warnet anda.

Setelah mengalami penundaan beberapa kali akhirnya Microsoft 7 keluar juga. Hari sabtu pekan lalu, Beta version akhirnya dapat didownload dengan gratis. Microsoft menyediakan sekitar 2.5 juta kopi untuk mereka yang ingin mencoba versi terbaru MS Windows ini.
Seperti yang dilansir dari windowsteamblog.com, pada tanggal 22 Oktober 2009, software Windows 7 akan hadir dalam 14 bahasa, yakni Inggris, Spanyol, Jepang, Jerman, Perancis,, Italia, Belanda, Rusia, Polandia, Brasil-Portugis, Korea, China Simple, China tradisional, dan China (Hong Kong). Sedangkan di tanggal 31 Oktober, akan menjadi 21 bahasa, dengan tambahan bahasa Norwegia, Finlandia, Yunani, Ukraina, Romania, Denmark, Turki, Czech, Portugis, Hungaria, Arab, Lithuania, Bulgaria, Estonia, Slovenia, Thailand, Kroasia, Latin Serbia, Yahudi, dan Latvia.
Windows 7 Upgrade Option Program ini akan hadir di bulan 31 Januari 2010, atau dapat mengunjungi situs windows.com/upgradeoffer. Untuk pengguna yang ingin meng-upgrade Windows 7 Home Premium Upgrade hanya membayar $119.99. Secara keseluruhan masih menurut sumber yang sama, Windows 7 lebih murah dibanding software sebelumnya. Hal ini termasuk fitur HomeGroup, Device Stage, Aero Shake, Snap, Peek, Jump Lists, dan Windows Taskbar yang telah didesain ulang untuk membuat PC semakin mudah digunakan. Atau user dapat melakukan upgrade gratis ke Windows 7, namun sebelumnya meng-instal Windows Vista original.
Perkiraan harga untuk upgrade paket product Windows 7 di US :
• Windows 7 Home Premium (Upgrade): $119.99
• Windows 7 Professional (Upgrade): $199.99
• Windows 7 Ultimate (Upgrade) : $219.99
Perkiraan harga untuk full paket product Windows 7 di US :
• Windows 7 Home Premium (Full): $199.99
• Windows 7 Professional (Full): $299.99
• Windows 7 Ultimate (Full) : $319.99
Hal ini berarti Windows 7 Home Premium full retail product akan lebih murah $40 dibandingkan Windows Vista Home Premium. Microsoft juga memberikan penawaran pre-order Windows 7 lebih dari diskon 50 persen, sehingga user dapat pre-order Windows 7Home Premium seharga USD $49.99 atau Windows 7 Professional untuk USD $99.99 (Best Buy atau Amazon atau store.microsoft.com). Program pre-order Windows 7 Home Premium ini mulai dijual di US, Kanada, Jepang di bulan Juli, dan di Inggris, Perancis, dan Jerman, di bulan Agustus.
Windows 7 juga telah diuji oleh pengguna komputer selama 18 bulan terakhir. Menurut Microsoft, lebih dari satu miliar pengguna memberikan umpan balik pada sesi konsumen dan 8 juta masukan pada tahap beta. Sistem operasi terbaru ini diciptakan untuk menjawab berbagai persoalan yang muncul pada Windows Vista. Ia didesain dengan kinerja yang lebih cepat dan tampilan yang diperbarui, meski bila diperhatikan sepintas lalu takkan terlihat jelas perbedaannya.
Salah satu keunggulan sistem operasi ini adalah kemampuannya ditanamkan di komputer berspesifikasi rendah seperti netbook. Proses booting dan shut-down didesain lebih cepat. Selain itu, ia mampu mengelola penggunaan tenaga baterai supaya bertahan lebih lama. Perubahan juga terjadi di aplikasi multimedia. Dengan Media Center, pengguna bisa menyaksikan video, mendengar musik, sampai menonton dan merekam siaran televisi.
Kelahiran Windows 7, yang dibanderol kurang dari satu juta rupiah untuk Home Basic, ini disambut antusias oleh vendor komputer. Para produsen seperti Hewlett-Packard dan Acer menyatakan bahwa sistem operasi ini telah mendatangkan peluang penjualan baru bagi mereka.



