TRIDHARMA

Posted by sanman | Jumat, Juni 26, 2009 | | 2 comments »

Tridharma sebagai satu organ kesatuan hanya ada di Indonesia. Tridharma tidak pernah mempunyai hubungan ke negara lain. Tridharma lahir karena dahsyatnya misi-misi Agama Nasrani yang berorientasi menyedot Umat Buddha keturunan Tionghoa pada akhir abad 19. Kwee Tek Hoay mendirikan Sam Kauw Hwee setelah Tiong Hoa Hwee Koan gagal memelihara dan mengembangkan ajaran Khong Hu Cu dan Beliau menganggap Khong Kauw Hwee yang didirikan di Solo pada tahun 1918 dan di kota-kota lain kurang memasyarakat atau kurang memberikan harapan. Ong Kie Tjay membentuk Tempat Ibadat Tri Dharma karena klenteng-klenteng di Jawa Timur terancam punah sebagai akibat dari persepsi yang kurang lengkap dari Penguasa Perang Daerah terhadap klenteng yang dianggapnya sebagai Lembaga Kecinaan yang non agama pasca G30S/PKI tahun 1965. Tahun 1954 lahir di Bogor Persatuan Pemuda Pemudi Sam Kauw Indonesia (P3SKI) yang kini menjadi Pemuda Tridharma Indonesia. Salah satu pendirinya adalah Souw Tjiang Poh atau lebih dikenal dengan nama Yogamurti bermukim di Bandung.

Istilah Tridharma (3 agama) adalah nama baru dari Sam Kauw (dari bhs. Hokkian: Sam = tiga, Kauw = agama, maklum nama yang berbau Cina harus ganti nama). Sam Kauw Hwee didirikan pada Mei 1934 oleh Kwee Tek Hoay, dengan tujuan untuk membendung Kristenisasi pada orang-orang Tionghoa. Karena perubahan agama (menjadi Kristen) dianggap sebagai penolakan unsur kebudayaan Tionghoa oleh orang Tionghoa sendiri.
Dalam pandangan Sam Kauw Hwee, tiga agama ini dapat disebut sebagai agama Tionghoa.

“itoe Sam Kauw aken mendjadi satoe philosofie agama jang paling lengkep dan memberi faedah besar bagi manoesia, teroetama bangsa Tionghoa jang leloehoernja soedah kenal itoe tiga peladjaran sadari riboean taon laloe”. (tulisan Kwee Tek Hoay di Sam Kauw Gwat Po edisi Feb 1939).

Konsep Tridharma/SamKauw/Sanjiao/Tiga Agama bukan hanya ada di Indonesia, tetapi sudah berakar mulai abad ke-12 di Tiongkok. Ditambah dengan sifat bangsa Tionghoa yang suka mencampur adukkan ajaran agama (sinkretisme) yang ada. Banyak bagian kebudayaan Tionghoa yang sudah tercampur-baur dengan unsur dari ketiga agama ini.

Kutipan dari berbagai sumber

Dilihat dari kutipan teks diatas, sudah tentu arti dari Tridharma tidaklah boleh di pelesetkan, berubah menjadi sebuah agama yang baru. Saya sebagai generasi muda merasa terpanggil untuk membantu teman-teman senasib dan seumuran saya, yang masih tidak mengerti akan arti tridharma yang sesungguhnya.

Kutipan diatas berdasarkan sejarah apa adanya, menunjukkan jelas bahwa Tridharma dibentuk untuk membendung kristenisasi yang dilakukan para penginjil barat pada masa penjajahan Belanda dulu. Karena, dengan kesatuan umat “3 agama” dianggap cukup kuat dalam membendung upaya kristenisasi tersebut. Pun sesudah kemerdekaan, tepatnya pada zaman orde baru, yakni saat rezim Presiden Soeharto berkuasa, G30S/PKI dijadikan alasan untuk menutup dan mengekang semua kegiatan yang berbau “cina” (tionghoa).

Alhasil, semua kelenteng “dipaksa” untuk merubah namanya menjadi vihara, dan otomatis harus menyelamatkan diri dengan bernaung dibawah majelis Buddha. Karena kalau tidak, akibatnya fatal, yaitu kelenteng tersebut (yang menolak) bisa dibongkar pemerintah! Maka itulah, peran Tridharma sangat tidak dapat dianggap sebelah mata, karena paling tidak dapat menyelamatkan ribuan kelenteng yang ada ditanah air ini.

Namun, seiring berjalannya waktu, tepatnya pada akhir rezim orde baru pada tahun 1998, orde roformasi pun mengganti. Pemerintah yang saat itu dipegang Presiden Abdulrahman Wahid mulai “melegalkan” budaya etnis china (tionghoa) ini. Pun dikuatkan oleh Presiden sesudahnya Megawati Soekarno Puteri yang melegalkan agama Kong Hu Cu ditandai dengan membuat hari libur IMLEK sebagai hari libur nasional. Hasilnya, budaya etnis tionghoa pun berkembang ditanah air.

Akhirnya, saking berkembangnya kebebasan itu, kini mulai terasa “perpecahan” lagi di kaum tionghoa, khususnya dalam soal agama. Banyak yang merasa Tridharma/sam khaw sudah layak dibubarkan, ditandai dengan sah nya agama KHC ditanah air. Pun Buddha sudah sejak lama memiliki majelis sendiri (sah dalam 5 agama pertama). Kini, tersisa agama TAO yang belum memiliki induk organisasi sendiri, masih bernaung dibawah Tridharma, Matrisia, atau Walubi Indonesia.

Tapi istilah Tridharma sendiri sudah sangat mendarah daging bagi kaum tionghoa. Hasilnya, 3 agama dicampur satu. Meski agama TAO (dewa-dewi) mendominasi, tapi banyak juga yang sudah tercampur. Terutama sangat tercampur di pemahaman Budhisme, seperti kitab suci, keng (nyanyian), dsb. Padahal, sangatlah tidak etis jika harus mencampur ke 3 ajaran yang mulia tersebut, dikarenakan hanya untuk mencari ming dan li! (nama dan jabatan). Hasilnya, banyak anak muda sekarang yang terluntang-lantung tidak mengetahui apa agama mereka yang sebenarnya. Misalnya jika ditanyai teman mereka, pasti malu, tidak tau mau menjawab apa, karena jika di jawab “saya beragama Budha” sedangkan mereka menyembah dewa/i. Apalagi menjawab “saya beragama Tridharma”, lebih parah lagi karena pasti akan dikatakan sinkretisme dan sesat.

Sudah saatnya generasi muda sekarang tahu, bahwa Tridharma bukanlah agama! Ini hanyalah akal-akalan saja bagi mereka yang sudah nyaman dilingkungan itu. Padahal, ujung2 nya dari label tridharma itu, agama TAO lah yang paling dirugikan. Ini mungkin “upaya” oknum-oknum tertentu yang ingin juga menarik umat TAO (karena umat Tao adalah yang terbanyak dari 3 agama ini, seluruh yang bersembahyang di kelenteng pun sebenarnya adalah umat TAO, karena menyembah dewa/i) menjadi umat mereka (Budha). Maka, berbagai upaya pun dilakukan, termasuk menganggap Dewa lebih rendah dari Budha, supaya umat pasti berpikir, “kalo begitu saya masuk Budha saja, toh Budha kan lebih tinggi daripada Dewa”.zzzzz…

Umumnya juga, saya melihat generasi muda sekarang ini sudah sangat terdokrinisasi dengan Tridharma ini. Mereka bahkan mati-matian menganggap bahwa Tridharma memang benar suatu agama! Benar-benar lelucon saja, seenak mengocok perut sendiri. Wong satu agama saja sudah susah dimengerti, apalagi mau 3 agama/ajaran? Tidak pernahkah anda bertanya kepada umat Budha (Theravada), atau kepada umat KHC, bahwa bolehkah saya mencatut inti ajaran anda untuk dimasukkan kedalam ajaran kami (Tridharma)?

Bahkan saya melihat juga, dalam perkembangan Tridharma di kelenteng, sudah agak keluar lintasan, seperti adanya pengajaran membaca “keng”, yang padahal istilah “keng” atau nyanyian dipergunakan oleh kaum Budha Mahayana. Begitupun dengan adanya juga dengan pengajaran membaca “dhamapada” atau kitab suci umat Budha Theravada. Menurut saya, jika toh memang benar-benar ingin belajar Budha, pergilah ke vihara. Disana anda akan lebih mendalami ajarannya. Paling tidak fungsi kelenteng, adalah mengarahkan saja, dengan memberi gambaran umum seputar 3 agama, dan tetap berpegang pada prinsip TAO, yakni menyembah dewa/i.

Contoh lainpun dalam Tridharma sekarang ini banyak berkembang kepercayaan mi sin/tahayul, misalnya dalam tradisi bakar-bakaran kertas yang berlebihan, malah dianggap sangat perlu sebagai upaya yang menurut saya seperti menyogok dewa/i. padahal, menurut saya, lebih baik anda kung tek/beramal ke kelenteng atau ke orang yang membutuhkan, Toh anda bakar 1 juta lembar kertas pun tidak akan bisa menghidupkan orang mati, ataupun merubah nasib anda nasib memang sudah ditakdirkan sial. Baiknya anda memupuk jasa-jasa untuk itu. Kalau hanya sekedar ikutan/mempertahankan tradisi saja, ya tidak mengapa, asal tidak berlebihan saja.

Begitupun juga dengan tradisi “sam ceng” atau sembahyang makanan bernyawa (daging) dihadapan altar dewa/i, yang menurut saya sangat merendahkan martabat dewa/i sendiri. Pantaskah mereka (para dewa/i) disembahyangi pake barang begituan? Mereka sudah sempurna, koq masih pake barang duniawi, dan kenapa dalam altar Budha tidak ada sembahyang begituan, hanya ada lilin, air, dupa, bunga, dsb. Apakah ini juga termasuk upaya “perkerdilan”?

Paling parah lagi ada arca/patung dewa yang ditempatkan di lantai/tanah, kayak dewa Thu Ti Kung/dewa tanah, hanya gara-gara namanya dewa tanah. Padahal yang namanya dewa harus dimuliakan/dipuja/ditinggikan, Coba kalo situ sudah meninggal, terus fotonya ditaruh dilantai, mau egk? Kan sama-sama dikuburkan dalam tanah juga. Tentu tidak mau bukan!

Kesimpulan yang dapat saya berikan, adalah Tridharma, kalaupun memang masih diperlukan, jadilah yang baik. Ajarlah kebenaran, bukan kesesatan. Kegiatan yang dilakukan pun hanya sebatas sembahyang bersama (pemujaan dewa/i, maupun altar sam khaw sendiri). Paling tidak akan terpeliraha kebersamaan yang sudah terjalin selama ini sesama orang tionghoa, meski beda agama. Begitu pula dalam hal pengajaran agama, apabila di kelenteng tridharma tersebut ada pengajaran atau sekolah minggu, ajarlah sesuai inti ajaran masing-masing. Budha ajar Dhamma, KHC ajar teladan dan ajaran nabi Kong Cu, dan TAO ajar ilmu keduniawian untuk mencapai manusia yang sempurna (cen san mei) serta ilmu kedewaan. Jangan ajarkan pembauran tiga agama, yang nantinya akan menjadi gado-gado, sehingga banyak yang akan bertanya-tanya, dan menjadi kebingungan sendiri. Kalaupun mengerti akan didapat pemahaman yang salah.

Sekian saja tulisan saya ini. Jika ada komentar/tanggapan dapat diajukan untuk kemajuan bersama!

Artikel Yang Berhubungan:



2 comments

  1. Anonim // Oktober 20, 2009 3:36 AM  

    hello...
    "Paling parah lagi ada arca/patung dewa yang ditempatkan di lantai/tanah, kayak dewa Thu Ti Kung/dewa tanah, hanya gara-gara namanya dewa tanah. Padahal yang namanya dewa harus dimuliakan/dipuja/ditinggikan, Coba kalo situ sudah meninggal, terus fotonya ditaruh dilantai, mau egk? Kan sama-sama dikuburkan dalam tanah juga. Tentu tidak mau bukan!"
    komentar saya:
    kalo menurut saya, seorang dewa (yg menurut anda jg pencapaiannya sudah tinggi setara dengan buddha)apakah masih memikirkan hal seperti itu?
    bila seorang dewa masih memikirkan hal seperti itu bukannya dewanya masih terikat akan pemujaan? keegoisan? apakah itu ciri2 seorang dewa yg memahami TAO?
    memang kalo anda sudah meninggal, dan fotonya ditaruh dilantai, bakal bangkit dari kuburan, dan menghukum orang yg menaruh di lantai?
    Kenapa harus memuja/memuliakan/meninggikan dewa? Apakah dewa menyuruhmu memujanya?
    Apakah lantai segitu kotornya?
    Apakah tanah segitu kotornya?
    Apakah antara langit dan tanah selalu lebih mulia langit?
    Ketika kita berpikir bahwa tanah itu kotor, maka tanah kotor. Ketika kita berpikir bahwa langit kotor, maka langit kotor. Sebenarnya mana yang benar-benar kotor?
    Begitu pula dengan perletakan arca shien beng di lantai/tanah atau di meja/ di atas tanah, mana yang benar-benar menghormati?

    "Umumnya juga, saya melihat generasi muda sekarang ini sudah sangat terdokrinisasi dengan Tridharma ini. Mereka bahkan mati-matian menganggap bahwa Tridharma memang benar suatu agama! Benar-benar lelucon saja, seenak mengocok perut sendiri. Wong satu agama saja sudah susah dimengerti, apalagi mau 3 agama/ajaran? Tidak pernahkah anda bertanya kepada umat Budha (Theravada), atau kepada umat KHC, bahwa bolehkah saya mencatut inti ajaran anda untuk dimasukkan kedalam ajaran kami (Tridharma)?"

    Komentar:
    pernahkah anda bertanya pada Lao Tze, Buddha, Kong Zi, kalau ajaran mereka tidak boleh dicampur adukkan?
    mungkin orang-orang yang anda lihat tersebut lebih bodoh, krn bisa sekaligus menerima 3 ajaran.
    Sebenarnya inti dari agama itu apa?
    memusingkan sinkritisme antar agama, atau mempraktekkan ajarannya dan menjadi org yg lebih baik?

    "Begitupun juga dengan tradisi “sam ceng” atau sembahyang makanan bernyawa (daging) dihadapan altar dewa/i, yang menurut saya sangat merendahkan martabat dewa/i sendiri. Pantaskah mereka (para dewa/i) disembahyangi pake barang begituan? Mereka sudah sempurna, koq masih pake barang duniawi, dan kenapa dalam altar Budha tidak ada sembahyang begituan, hanya ada lilin, air, dupa, bunga, dsb. Apakah ini juga termasuk upaya “perkerdilan”?"

    komentar:
    tahukah anda sejarah dan makna sam seng yang sebenarnya?
    Mengapa anda berpikir bahwa barang sembhayangan itu, untuk para dewa makan?

    peace

  2. Anonim // Oktober 27, 2009 2:41 PM  

    kalo menurut saya, seorang dewa (yg menurut anda jg pencapaiannya sudah tinggi setara dengan buddha)apakah masih memikirkan hal seperti itu?
    bila seorang dewa masih memikirkan hal seperti itu bukannya dewanya masih terikat akan pemujaan? keegoisan? apakah itu ciri2 seorang dewa yg memahami TAO?

    >>> Komentar:
    Terlepas dari Dewa memikirkan atau tidak, tetapi sebagai seorang manusia, apa definisi anda tentang hormat? Dan bagaimana tindakan menghormati pihak lain? Apakah Anda menghormati alm. leluhur Anda pun seperti itu?

    memang kalo anda sudah meninggal, dan fotonya ditaruh dilantai, bakal bangkit dari kuburan, dan menghukum orang yg menaruh di lantai?
    >>> Komentar:
    Saya rasa di atas tidak ada yang mengatakan bahwa yang mati akan bangkit dari kubur maupun menghukum orang lain.

    Kenapa harus memuja/memuliakan/meninggikan dewa? Apakah dewa menyuruhmu memujanya?
    >>> Komentar:
    Tidak ada yang mengharuskan. Anda mau silahkan, tidak pun tidak masalah, semua kembali pada Anda.
    Apakah menurut Anda, Tuhan/Buddha pun harus/menyuruh untuk dipuja, dimuliakan, atau ditinggikan?

    Apakah lantai segitu kotornya?
    Apakah tanah segitu kotornya?
    >>> Komentar:
    Jika menurut Anda tanah/lantai tidak kotor, mengapa di masyarakat beredar sedemikian banyak jenis pembersih lantai? Kenapa manusia menciptakan sapu dan pel? Kenapa manusia menciptakan tempat tidur dan tidak tidur di lantai/tanah?

    Apakah antara langit dan tanah selalu lebih mulia langit?
    Ketika kita berpikir bahwa tanah itu kotor, maka tanah kotor. Ketika kita berpikir bahwa langit kotor, maka langit kotor. Sebenarnya mana yang benar-benar kotor?
    >>> Komentar:
    Jika demikian, ketika Anda makan sayur, buah, daging, tidak perlu dicuci, selama Anda berpikir bahwa daging, sayur dan buah tidak kotor, benar?

    Begitu pula dengan perletakan arca shien beng di lantai/tanah atau di meja/ di atas tanah, mana yang benar-benar menghormati?
    >>> Komentar:
    Tentu saja jika menurut definisi Anda, menghormati itu meletakkan arca di lantai/tanah, yang menungkinkan kucing atau anjing mengendus-endus, kencing atau bermain... Silahkan saja.

    pernahkah anda bertanya pada Lao Tze, Buddha, Kong Zi, kalau ajaran mereka tidak boleh dicampur adukkan?
    >>> Komentar:
    Tolong tanyakan pada mereka, jika Anda benar-benar bisa menanyakannya pada mereka.

    peace