07 Juli 2009

FC PARMA



Sejarah

Giuseppe Verdi, komposer musik opera terkemuka era Romantik, tidak suka sepakbola. Namun publik Propinsi Parma -- tempat kelahiran sang komposer pencipta Aida dan Otello -- membentuk klub sepakbola dan memberinya nama Verdi Football Club pada Juli 1913 untuk menghargai sang musikus.

Belum genap satu tahun, tepatnya Desember 1913, Verdi FC berubah nama menjadi Parma AC. Tidak diketahui apa alasan pengubahan nama ini.

Yang pasti, Parma bermain di liga kali pertama musim 1919/1920. Parma mengakhiri musim di tempat kedua Kejuaraan Emilian. Pada musim 1924/1925, Parma promosi ke Liga Regional, lalu bergerak ke Divisi II dan I. Pada musim 1928/1929 mereka memenangkan gelar Divisi I, dan menjadi founding members Serie B.

Di awal kiprahnya di Serie B, Parma sempat berganti nama menjadi AS Parma. Di tahun 1932, Parma terdegradasi, dan menjadi founding members Serie C. Di sinilah Parma menghabiskan waktu sampai pergantian dekade.

Setelah pergantian dekade, tepatnya pada musim 1941/1942, Parma kembali promosi ke Serie B. Namun setelah itu seluruh liga sepakbola Italia dihentikan akibat Perang Dunia II.

Usai perang, Parma bermain tiga musim di Serie B, dan kembali terdegradasi ke Serie C pada musim 1948/1949. Mereka menghabiskan lima musim lagi di Serie C, sampai akhirnya promosi lagi pada musim 1953/1954.

Pada akhir 1960-an, Parma memasuki masa paling mengenaskan. Mereka kehilangan standar, sempat berubah nama lagi, sampai akhirnya Associazione Calcio Parma dimapankan. Pada musim panas 1969, AC Parmense -- klub sekotanya -- bergabung untuk membentuk satu tim.

Prestasi Parma sepanjang 1970-an tidak ubahnya permainan yoyo. Mereka bisa tampil mengesankan di Serie B, setelah itu limbung dan kembali ke Serie C.

Pada musim 1978/1979, Parma kedatangan Cesare Maldini. Performa Parma membaik, promosi ke Serie B lagi lewat play-off. Adalah si belia Carlo Ancelotti yang menempatkan Parma kembali ke Serie B lewat dua golnya.

Hanya semusim di Serie B, Parma kembali ke Serie C di awal tahun 1980-an, dan selama empat tahun berada di sana. Arrigo Sacchi mengembalikan Parma ke Serie B musim 1986/1987, tapi setelah itu pergi untuk menerima tawaran Silvio Berlusconi menangani AC Milan.

Nevio Scala menggantikan Sacchi. Di tangan Scala, kali pertama dalam sejarah Parma promosi ke Serie A. Di pertandingan penentuan, Parma mengalahkan Reggina dua gol tanpa balas. Marco Osio dan Alessandro Melli menjadi pahlawan Parma.

Debut Parma di Serie A ditandai dengan kekalahan 2-1 atas Juventus. Dua pekan kemudian mereka membuat kejutan dengan mengalahkan Napoli, yang saat itu diperkuat Diego Maradona, 1-0.

Sukses Parma promosi ke Serie A menarik minat banyak bakat dari luar bermain dengan mereka. Era baru bagi Parma juga dimulai. Parmalat, perusahaan susu terkemuka, membeli 45 persen saham klub dan menjadi sponsor utama. Fans menyebutny Era Keemasan Parma.

Lebih mengesankan lagi, Parma mengakhiri musim pertamanya di Serie A dengan berada di tempat keenam, yang membuat mereka tampil di Piala UEFA.

Namun musim pertamanya di Piala UEFA berakhir dengan kegagalan akibat dikalahkan CSKA Sofia. Di dalam negeri, Parma lebih sukses. Mereka mampu mengalahkan Juventus di Coppa Italia, dan Alberto Di Chiarra -- salah seorang pemainnya -- dipanggil timnas Italia.

Trofi pertama Parma diperoleh di Eropa, dengan mengalahkan Royal Antwerp 3-1 di final Piala Winners di Wembley pada 12 Mei 1993. Musim berikutnya, Parma meraih Piala Super Eropa, dengan mengalahkan AC Milan 2-0

Parma sempat kembali ke final Piala Winners musim 1993/1994, tapi dikalahkan Arsenal 1-0. Musim 1994/1995 Parma mengalahkan Juventus di final Piala UEFA. Inilah pencapaian terbesar Parma.

Sukses di Eropa membuat Parma diminati banyak-banyak bintang lainnya. Tomas Brolin, Hristo Stoichkov, Fabio Cannavaro, Gianfranco Zola, Faustino Asprilla, Dino Baggio, Hernán Crespo, Enrico Chiesa, dan Diego Fuser, bergabung. Namun tahun 1996 Scala pindah klub, dan digantikan Carlo Ancelotti.

Meski belum mampu memberikan gelar Serie A Italia, Ancelotti menempatkan Parma di posisi runner up pada akhir musim, dengan satu angka di belakang Juve.

Parma hadir di Liga Champions, tapi tak mampu bersaing. Di Serie A, performa Parma menurun dan harus mengakhiri musim di peringkat keenam.

Di bawah Alberto Malesani, Parma memenangkan Coppa italia musim 1998/1999, dengan mengalahkan Fiorentina. Mereka kali kedua mencapai final Piala UEFA, dan mengalahkan Marseille lewat gol Hernan Crespo, Vanoli, dan Enrico Chiesa, untuk membawa pulang trofi itu.

Krisis finansial, Kembali ke Serie B

Parma mengawali musim 1999/2000 dengan baik, memenangkan Piala Super Italia, tapi terlempar di babak awal Liga Champions dan mengakhiri musim di peringakt empat.

Arrigo Sacchi kembali ke klub sebagai manajer pada Januari 2001, tapi mengundurkan diri akibat sakit. Renzo Ulivieri mengambil alih posisi Sacchi, dan sekali lagi membawa Parma ke peringkat empat di Serie A. Parma mengikuti kualifikasi Liga Champions. Di Coppa Italia, Parma dikalahkan Fiorentina.

Musim 2001/2002, Parma melakukan perombakan besar-besaran. Mereka menjual Gianluigi Buffon, Lilian Thuram, Sergio Conceicao, dan Marcio Amorosso. Sebagai gantinya, mereka membeli Sebastien Frey, Matteo Ferrari, Martin Djetou, Aimo Diana, Marco Marchionni, Hidetoshi Nakata dan Emiliano Bonazzoli.

Pietro Carmignani mengambil alih kursi pelatih. Dia membawa Parma ke final Coppa Italia. Di leg pertama, Parma menang 1-0, tapi di leg kedua kalah 2-1. Parma menjuarai Coppa Italia berkat keunggulan gol away.

Tidak banyak yang tahu bagaimana kondisi keuangan Parma saat itu. Namun pers sudah mulai melihat banyak yang tidak beres dengan Parma. Indikasinya adalah ketika mereka menjual semua pemain bintangnya pada awal musim 2002/2003; Fabio Cannavaro ke Inter Milan, Marco Di Vaio ke Juventus, dan Johan Micoud ke Bremen.

Sebagai gantinya mereka mendatangkan Daniele Bonera, Matteo Brighi, Mark Bresciano, Adriano, Adrian Mutu dan Alberto Gilardino. Mereka menukar Matias Almeyda dengan Vratislav Greško, dan Luigi Sarto untuk Sebastiano Siviglia.

Musim berikutnya, Parma menjual Mutu ke Chelsea, Aimo Diana ke Sampdoria, Stephen Appian ke Juventus, Sabri Lamouchi ditukar dengan Domenico Morfeo. Saat itu pula skandal keuangan Parmalat terungkap.

Parma masih belum terganggu. Ini terbukti dengan kemampuan mereka mengakhiri musim di tempat kelima.

Seolah ingin mencari untung dari penjualan pemain, Parma kembali menjual Nakata ke Fiorentina, Simone Barone ke Palermo, dan Matteo Ferrari ke Roma. Sedangkan Cesare Bovo, Alessandro Potenza, Alessandro Budel, dipinjamkan ke Roma, Inter, dan Milan. Parma berupaya merampingkan pengeluarannya.

Sebagai gantinya, mereka hanya mendatangkan dua pemain muda; Fábio Simplício dan Vince Grella.

Silvio Baldini ditunjuk sebagai pelatih, tapi tak lama. Carmignani dipanggil lagi dan diminta menyelamatkan klub.

Di musim 2004/2005 ini Parma masih diperkuat Frey, Alberto Gilardino, Andrea Pisanu, Marco Marchionni, Domenico Morfeo dan Mark Bresciano. Mereka mencapai semifinal Piala UEFA, tapi tertatih-tatih di Serie A.

Parma beruntung dengan meraih kemenangan di empat laga terakhir untuk terhindar dari zona degradasi.

Krisis finansial Parmalat kian parah. Kondisi keuangan klub juga mengkhawatirkan. Manajemen Parma dipaksa memangkas anggaran biaya operasinal, dan cara yang paling mudah ditempuh adalah dengan menjual pemain bintangnya.

Frey dan Gilardino. Sebagai gantinya, Parma meminjam Cristiano Lupatelli dan Bernardo Corradi. Saat itu pula manajemen Parma mengumumkan klub telah dibeli oleh Lorenzo Sanz, mantan presiden Real Madrid.

Sanz mereorganisasi Parma, dan mengubah namanya menjadi Parma Football Club. Mario Beretta ditunjuk sebagai pelatih.

Namun Sanz tidak terlalu kaya. Parma tetap mengalami kesulitan finansial, tapi masih bisa mengakhiri musim di papan tengah dan meraih tiket ke Piala UEFA akibat terungkapnya skandal pengaturan wasit dan suap.

Musim 2006/2007 ditandai dengan penjualan Bonera, Bresciano dan Simplício, untuk mendapatkan dana segar. Sebagai gantinya, Parma membeli pemain yang lebih murah; Igor Budan, Andrea Gasbarroni dan Vitali Kutuzov

Pada 24 Januari 2007, Tommaso Ghirardi dinobatkan sebagai pemiliki baru Parma. Ia membeli klub ini lewat lelang umum. Pembelian ini mengakhiri kontrol negara atas klub.

Ghirardi, saat itu masih berusia 31 tahun, adalah pengusaha dan pemiliki Carpenedolo -- klub Serie C2.

Ghirardi memecat Pioli, dan menunjuk Claudio Ranieri untuk menyelamatkan Parma dari degradasi. Ranieri berhasil.

Namun pada musim berikutnya, 2007/2008, Ghirardi gagal menghindari Parma dari degradasi meski telah memanggil pelatih Domenico Di Carlo, Héctor Cúper, dan menugaskan Andrea Manzo.

Di pertandingan terakhir yang amat menentukan, Parma dikalahkan Inter Milan 2-0 di depan publiknya.

Reginaldo menjadi satu-satunya pemain yang bisa dijual Parma untuk membiayai perjalanan klub di Serie B. Sedangkan Corradi kembali ke klub induk.

Guidolin tampaknya akan bisa mengembalikan Parma ke Serie A. Jika berhasil, Ghirardi dipastikan akan mengeluarkan banyak dana untuk investasi, agar Parma bertahan lebih lama di Serie A.

Meski belum pernah meraih Scudetto, Parma terlanjut telah memiliki fans di banyak negara, termasuk Indonesia.

Profil Klub:

Full name :Parma Football Club SpA
Nickname(s) : Ducali (Duchy), Gialloblu (Yellow-blues),Crociati(Crusaders)
Founded :July 27, 1913 (AC Parma), 2005 (Parma FC)
Ground Stadion: Ennio Tardini,Parma, Italy(Capacity: 27,906)
Chairman : Tommaso Ghirardi
Head Coach : Francesco Guidolin

Achievement:

UEFA Cup (2):
•Winners: 1994-95, 1998-99

European Super Cup:
• Winners: 1993

UEFA Cup Winners' Cup:
• Winners: 1992-93
o Runners-up: 1993-94

Coppa Italia (3):
• Winners: 1991-92, 1998-99, 2001-02
o Runners-up: 1994-95, 2000-01

Italian Super Cup:
• Winners: 1999

Serie A:
• Runners up: 1996-97

Serie B:
• Promoted: 1989-1990

Serie C: (7)
• Promoted: 1928-29, 1943-44, 1953-54, 1972-73, 1978-79, 1983-84, 1985-86

Serie D:
• Promoted: 1969-70

Ciutat de Barcelona Trophy:
• Winners: 2003

Emilian League Division 1:
• Champions: 1928-29

Emilian League Division 2:
• Promoted: 1924-25
o Runners-up: 1919-20

Sekilas Mengenai Parma:

Pertama Kali promosi ke seri A tahun 1990 dibawah Nevio Scala. Parma Mencapai periode emasnya dibawah kepemimpinan Tanzi Famili dibawah Naungan Perusahaan PARMALAT.

Dibawah naungan Parmalat, Parma Mencapai kejayaannya yang biasa disebut "golden Period". Parma juga merupakan salah satu anggota Magnificient Seven klub sepakbola Seri-a. Walau belum pernah menjuarai Seri-a, pada masa kejayaannya Parma sering disebut2 sebagai kandidat kuda hitam, bahkan kandidat perebut Scudetto. Prestasi terbaik Parma di Seri-A adalah sebagai Runner Up tahun 1997, hanya 1 point dibawah Juventus!!

Sedangkan prestasi Parma Di Eropa Lebih mentereng dengan 2x juara Piala UEFA. Piala Pertama diraih tahun 1995 dengan mengalahkan Juventus. Bintang2 saat itu antara lain Faustino asprilla, bucci, benarrivo, apoloni, couto, zola, dan Dino Baggio. Parma menang aggregat 2-1 dimana di Ennio tardini menang 1-0 lewat goal Dino baggio sedang di leg 2 menahan juve 1-1 lagi2 goal parma dicetak oleh dino baggio..

Parma meraih piala uefa kedua kalinya tahun 1999 setelahmengalahkan marseille 3-0 lewat gol hernan crespo, enrico chiesa, dan paolo vanoli. Skuad tahun 1999 ini gw bilang paling mantab deh.. GK ada buffon, Beknya ada thuram, cannavaro, sartor, sensini, vanoli dll. Tengahnya ada fuser, baggio, Juan veron dan alain boghossian. sedang di depannya ada duet maut Double C, Chiesa dan Crespo.

Crespo Mengangkat Trophy Piala UEFA kedua Parma Setelah Menggulung Marseille 3-0 tahun 1999

Setelah kasus Parmalat Scandal, mau ga mau parma menjual bintang2nya macem buffon, thuram, Cannavaro, dll.. masuklah parma kedalam masa kegelapan lagi sampe akhirnya degradasi kembali tahun 2008.

Mudah2an tahun ini bisa promosi lagi ke seri-a dan bisa kuat lagi deh...

Skuad Parma Saat Ini:
No. Position Player
1 GK Nicola Pavarini
2 DF Damiano Zenoni
3 DF Luca Antonelli
4 MF Stefano Morrone
5 DF Magnus Troest
6 DF Alessandro Lucarelli
7 DF Paolo Castellini
8 MF Francesco Lunardini
9 FW Reginaldo
10 FW Julio César de León
11 FW Andrea Pisanu
13 DF Marco Rossi
14 FW Daniele Vantaggiato
17 MF McDonald Mariga
19 DF Giulio Falcone
21 MF Alessio Manzoni (on loan from Atalanta)
22 GK Andrea Gasparri
23 DF Cristian Anelli
24 DF Massimo Paci
25 MF Antonino D'Agostino (on loan from Atalanta)
31 GK Gianluca Pegolo
32 MF Alessandro Budel
43 FW Alberto Paloschi
48 DF Francesco Pambianchi
55 GK Paolo Ginestra (on loan from Ternana)
99 FW Cristiano Lucarelli

Sebagai INFO musim 2009/2010 FC PARMA kembali lagi promosi ke seri A Liga Italia setelah musim lalu terperosok di seri B Liga Italia.
FORZA PARMA!!!
Cia Yo!!!

5 komentar:

Anonim mengatakan...

bro,,profil ttg parma keren bgt..

gw parmagiani indonesia yg domisili di jogja..

klo bs lo gabung grupny di facebook search ja parmagiani indonesia

adi

sanman mengatakan...

Saya sudah gabung grupnya bro di FB...
Buat teman-teman yang lain juga tolong di komen yah kalo tulisanku ini jelek atau ada salah-salah...
thx

Anonim mengatakan...

parmaaaaaaa,,,,
senang ada yg ngulas^^

Silga Penerimaan mengatakan...

like.. post terbaru 2013/2014 dunk

ridho fachreza mengatakan...

akhirnya ada juga yang nulis soal parma ...
jgnkan ngulas nyari jerseynya ja ampun susahnya ...
thx bro ...