27 Oktober 2009

NASIB WARNET DIMASA KINI

Sewaktu awal bulan januari tahun 2009, banyak warnet yang mulai buka akibat demam facebook.Tapi kini, saking banyaknya warnet baru, malah akhirnya semua warnet terancam bangkrut. Inilah perilaku warga didaerah saya. Dimana ada gula disitu ada semut. Dimana ada peluang pasar, disitu akan ada usaha. Padahal harusnya yang turut menjadi bahan pertimbangan sebelum membuka usaha adalah efek jangka panjangnya itu seperti apa. Apakah jenis usaha ini tahan lama atau tidak (Cuma musiman).

Pemerintah yang seharusnya menjadi “pengatur” malah lebih terkesan diam saja. Padahal, bukan Cuma jenis usaha warnet saja, tetapi semua jenis usaha, seperti restaurant, hotel, toko, supermarket, bisnis travel/penjualan tiket pesawat, dan berbagai macam bisnis usaha lainnya, yang kesemuanya harus ditata sebaik mungkin, agar jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit, agar tidak terjadi monopoli. Jika suatu usaha bangkrut akibat terlalu banyak pesaing, efek jangka panjangnya adalah pemasukan pajak ke pemerintah berkurang, tenaga kerja menjadi pengangguran, tingkat kerawanan naik, kemiskinan pun akan ikutan naik, karena masyarakat tidak memperoleh pendapatan. Ujung-ujungnya pemerintah juga yang rugi. Maka dari itu, pemerintah haruslah menciptakan efek berusaha yang kondusif.

Semuanya menurut pemikiran saya, haruslah ditata (dibatasi), dengan menghitung jumlah penduduk dan pangsa pasar disuatu daerah tersebut. Akibatnya, misalnya sebuah hotel, yang didalam suatu daerah mencapai puluhan, sedangkan didaerah itu jumlah penduduknya terbatas, dan potensi wisatanya juga kurang, ya mana bisa maju. Apalagi menurut perhitungan umum tingkat hunian hotel-hotel, minimal rata-rata harus terisi paling kurang 50% dari total kamar yang ada. Kalau dibawah itu dan berlangsung lama, alias egk naik-naik, ya tinggal tunggu waktu saja untuk gulung tikar. Hal ini berarti bagi penanam modal, merupakan langkah yang sia-sia, dan modal mereka terbuang percuma.

Akan sama halnya juga dengan usaha warnet. Dengan modal yang relatif cukup kecil, seseorang sudah dapat membuka usaha warnet sendiri. Bagus, untuk dari segi entrepreneurship/kewirausahaan. Tapi menurut saya, adalah pemikiran kurang matang. Jangan karena hanya melihat bahwa satu warnet banyak pelanggannya, lantas mengambil kesimpulan bahwa berarti semua warnet juga akan sama banyak pelanggannya. Ia harusnya menganalisis kapan bisa balik modal, atau malah patah ditengah jalan, akibat menurunnya jumlah pelanggan dan begitu banyaknya pesaing yang ada. Begitupun dengan pemilihan lokasi, jika berada di dekat sekolah, mall, atau tempat-tempat ramai lainnya, akan lain ceritanya. Tapi jika lokasi warnetnya cuma dilorong?

Ilustrasinya begini, misal didaerah A, tepatnya dijalan B, berdiri sebuah warnet C dengan berdaya tampung 20 unit. Rata-rata pelanggan hariannya adalah 100 orang per hari. Jika harga perjam internetnya Rp 5000, dan rata-rata orang menggunakan 1 jam saja, berarti 100 x Rp.5000 = Rp.500.000 omzet hariannya. Tak lama berdiri juga sebuah warnet D tak jauh dari lokasi warnet C. Asumsinya, pelanggan terbagi 2, menjadi 50 orang per hari. Omzetnya pun bisa saja terbagi 2, yaitu menjadi Rp. 250.000 per hari. Ya katakanlah ada pelanggan dari luar wilayah itu, sebanyak 20%, atau 20 orang (100 x 20%). Omzet tambahannya 20 x Rp5000 = Rp.100.000, atau Cuma sebanyak Rp.50.000 apabila sudah ada 2 warnet disatu lokasi. Jadi total omzetnya Rp.250.000 + Rp.50.000 = Rp.300.000/hari.

Nah, belum lagi jika berdiri lagi warnet E, F, G, dan seterusnya. Tinggal dibagi saja total omzet rata-ratanya. Belum juga dipotong “efek jenuh pelanggan”, atau bahasa lainnya pelanggan sudah bosan untuk membuka akun FBnya. Hal ini yang sebenarnya paling ditakuti warnet. Jika pelanggan berkurang, efeknya dalah omzet berkurang. Jika dilihat, semakin kecil bukan? Nah apa jadinya bisa omzet sudah tidak mencukupi lagi untuk membayar kebutuhan operasional? Jawabannya adalah bangkrut.

Hal ini semoga semakin membuka wawasan kita, bahwa begitu pentingnya kata PERENCANAAN. Jangan hanya melihat suatu usaha maju, lantas mengikutinya kayak bebek, tanpa mempertimbangkan unsur resiko dan efek jangka panjangnya. Akibatnya bisa fatal. Untung-untung bisa pulang pokok, kalau tidak? Sedangkan kata pulang pokokpun sebenarnya diasumsikan rugi, karena bila kita depositokan, paling tidak akan terdapat untung dari bunga bank. Akhir kata jika ada koreksi, tambahan, atau masukkan dari pembaca dapat diposting bagian dibawah tulisan ini sebagai komentar. Terima kasih!

4 komentar:

Zippy mengatakan...

Ya..itu mungkin salah satu bentuk resikonya.
Susah jg sih bwt pemerintah untuk mengatur satu per satu.

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Ditempat saya malah lebih gawat,...
pemadaman listrik bergilir 4 kali sehari selama 4 jam, sudah berlangsung 2 bulan.

resiko pekerjaan.

sanman mengatakan...

@zippy: inilah resikonya jika kita belajar bewiraswasta sendiri. Persaingan kadang kala begitu ketatnya dizaman sekarang ini.

@setiawan dirgantara: pengaruh musim panas ini pak. PLTA kekurangan air sebagai pembangkit tenaga listriknya.

Hendra Saptadi mengatakan...

pemerintah diam kan karena usaha warnet tidak usah pake ijin, jadi pajak pun tidak bisa ditarik, lalu apa keuntungannya buat pemerintah kalo pajak dari usaha warnet tidak ada?