11 Desember 2009

Timnas U-23 Indonesia

Timnas Indonesia U-23 akhirnya gagal total di kejuaraan SEA GAMES XXV di Laos. Sengaja saya baru poskan komentar diakhir perjuangan, Karena saya sudah meramalkan awal kegagalan bagi timnas U-23 ini. Dari pada harus capek-capek nulis setiap pertandingan kualifikasi yang dilalui, dan nulis kata-kata makian, lebih baik ditulis sekalian aja.

Timnas U-23 sebenarnya sudah cukup bagus bisa menahan seri timnas Singapura dilaga pembuka (macth 1) dengan skor 2-2. Dengan skor seri, diyakini asal bisa menang lawan Laos, dan paling sial seripun lawan Myanmar, kita masih isa masuk ke semifinal dengan poin 5. Apalagi memang para pemain dan official timnas Indonesia pun sesumbar, dengan mengumbar kalo timnas kita kali ini bisa juara cabor sepak bola di SEA GAMES kali ini.

Yang bikin mental timnas U-23 naik cuma 1, yaitu bergabungnya Boaz Salossa di timnas junior ini. Mereka pikir Boaz Ini kemampuannya sama kayak Leonel Messi atau C. Ronaldo. Zzz…Kalaupun memang benar, ada pepatah mengatakan, sebuah tiang besar tidak akan mampu menyanggah sebuah rumah yang besar. George Weah pun, yang pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia pada saat masih berbaju AC Milan pada decade 1990-an, tidak pernah membawa timnasnya, Liberia untuk menjuarai piala Afika ataupun menembus piala dunia.

Tapi, nasib berkata lain. Timnas U-23 dengan tragis dikalahkan oleh tim kacangan, Laos, dengan skor 2-0. Padahal, seumur-umur, tidak pernah Indonesia takluk ditangan tim macam ini. Banyak para pensiunan timnas dan para pemain legenda Indonesia bahkan sampai harus menutup mukanya karena malu dengan mantan timnas yang dibelanya sewaktu muda. Pada era 1970an- tahun 2008 kemarin, kita setidaknya bisa membantai Laos. Hasilnya, peluang Indonesia untuk lolos ke semifinal semakin berat, dan harus bergantung pada partai Laos vs Singapura.

Belum cukup membuat segenap bangsa Indonesia marah, timnas U-23 kembali menunjukkan tajinya dengan kembali mengalami kekalahan saat menghadapi Myanmar di macth ke 3 (akhir) dengan skor telak, 3-1. Inilah akhir dari perjuangan timnas U-23. Anehnya, segenap ofisial dan pemain tetap berbesar hati, lantaran ketua umum PSSI, Nurdin Halid, memuji pernampilan timnas yang dikirimnya itu ke Laos. Dia berkilah kalo kegagalan yang menimpa timnas U-23 adalah faktor stadion, dan faktor pelatih kepala yang tidak bisa berbahasa Indonesia ataupun Inggris.

Andai kata saya yang menjadi ketum PSSI-nya Indonesia, pasti segenap official dan pemain pasti akan saya suruh pulang untuk jalan kaki. So? Marah? Ingat, kalian baru saja membikin malu segenap rakyat Indonesia sampai tidak bisa menegakkan kepalanya jika suatu saat berkunjung ke Laos.

Harusnya, yang dikirim ke Laos tuh timnas U-19 lalu. Bukan yang ini. Meski mereka masih muda, tapi skillnya sudah diatas rata-rata pemain timnas senior Indonesia. Paling Cuma mental bertandingnya aja yang diangkat, biar egk drop jika harus berhadapan dengan lawan yang lebih tua pemainnya.

Yah, mau apa lagi? Kita memang sudah dikacangi oleh Negara-negara se ASEAN soal urusan sepakbola. Maka dari itu, kita harus merebut kembali gengsi kita, dengan cara merevitalisasi seluruh komponen sepakbola, termasuk:

1. Ganti ketum PSSI Nurdin Halid. Dia sudah 2 periode menjabat ketua PSSI. Juga sempat masuk bui 1x. Prestasinya di dunia? 0 besar.
2. Ganti pelatih kepala timnas senior dan junior, yaitu Mr. Bendol. PSSI tidak boleh memasang jabatan rangkap antara petaih senior dan junior. Bendol juga sebaiknya tidak disertakan lagi dalam seleksi2 kepelatihan untuk timnas. Soalnya, kemampuan melatihnya kacang-kacang. Timnas berbagai usia dilatihnya untuk menyerang jika melawan tim lemah, serta menginstruksikan untuk bertahan total apabila melawan tim kuat.
3. Ganti sistem pembinaan pemain junior. Yang berbakat kirim keluar negeri. Yang skillnya standar latih di dalam negeri, dengan menggunakan pelatih asing.
4. Setiap klub di LSI maksimal memakai 3 pemain asing, tanpa plus-plusan. Juga wajib membentuk tim juniornya.
5. Komisi perwasitan di Indonesia harus mengikuti standar internasional dalam memimpin jalannya sebuah pertandingan. Jika memang terbukti pemain bermain kasar, langsung saja cabut kartu kuning/merah. Tidak perlu takut.
6. Tingkatkan jumlah polisi dalam mengawasi sebuah pertandingan.
7. Batasi supporter dalam satu pertandingan, atau catat daftar supporter yang sering membuat ricuh. Jika terbukti 1x saja, langsung saja di banned selamanya dari semua stadion di Indonesia untuk menonton pertandingan.

Saya kira itu saja yang dalam waktu dekat harus segera diwujudkan dalam tubuh PSSI. Paling tidak, secara perlahan, kita akan meningkatkan standar klitas permainan sepakbola dalam negeri. Ada tambahan, bisa posting di bagian komentar.

5 komentar:

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

mana u-19, saya lebih suka pemain muda..

Seti@wan Dirgant@Ra mengatakan...

Moga terus dapat berprestasi...
kalau mau copas dan ditempatkan diblog, sebaiknya di upload di photobucket dulu baru kemudian scriptnya di copy ke blog, terima kasih.

hendrie k_bejo mengatakan...

Turut berduka !!

ataedun mengatakan...

yah sama bung herman, say ajuga kecewa sekali... untung saja say atidak pernah menonton yang kemarin itu (emang ngga disiarkan ya?)
dan satu lagi yang saya setuji, say atidak pernah suka dengan Mr Bendol... subjektif memang, tapi saya kurang suka... ganti lah...

sanman mengatakan...

Saya setuju. Bendol diganti aja. Ngapain pake dia? Cuma ada 1 alasan. PSSI egk punya duit menggaji pelatih asing berkualitas.