05 Mei 2012

Entrepreneur Sejati

Akhir-akhir ini di salah satu koran lokal kota saya banyak memuat kisah cerita orang-orang yang sukses di bidang entrepreneur/wirausaha. Setiap edisi/hari, sebuah halaman khusus yang bertajuk "better generation" disediakan untuk memuat kisah-kisah sukses perjalanan karir seorang pengusaha. Tapi lama-kelamaan, profile orang yang dimuat mulai ngaco. Kebanyakan anak-anak bos saja yang dimuat. Menurutku, mereka itu bukan seorang entrepreur sejati.

Menurut pandanganku, seorang entrepreneur sejati itu adalah orang yang membangun sebuah usaha dari nol. Dimulai dari kisah sekolah/masa kecilnya, sampai bagaimana dia mulai merintis usaha dengan ikut terjun langsung dalam menangani bisnisnya dari berjualan jasa/barang yang seadanya, lalu perlahan berkembang, meski lewat pinjaman modal, ngutang, joint, atau lain sebagainya. Itu yang pengen dibaca orang, sebagai suatu kisah perjalanan yang sukses. Karir dirintis dari bawah. Bukannya orang yang sudah "setengah jadi" yang dimuat. Orang "setengah jadi" disini adalah orang yang sukses karena bawaan lahir, seperti warisan perusahaan orang tua.

Pembaca tentu ingin mencari tahu, bagaimana sih cara jadi sukses itu, agar bisa ditiru dan dijadikan sebuah motivasi untuk berani berwirausaha, bukan bagaimana cara menikmati kesuksesan/tinggal melanjutkan. Ada contoh, seorang anak yang mempunyai orang tua seorang pengusaha kaya. Si anak, kuliah di Luar Negeri dari S1 sampai S2, lalu sudah berkeluarga pada usia muda (katakanlah 27 tahun). Nah lho, kalo tiba-tiba banyak perusahaan/PT yang dipegangnya, itu dapat dari mana? Waktu untuk berkarier nya kapan? Bangun usahanya mulai dari mana, sedangkan waktunya saja habis buat kuliah dan pacaran.

Saranku, tolong wartawan penulisnya harus pandai-pandai melihat sosok yang tepat untuk dimasukkan dalam halaman "best generation" tersebut. Jangan sampai pola pandang masyarakat berubah, bahwa hanya orang yang punya duit/modal lah yang bisa berwirausaha. Akhirnya, orang yang punya modal pas-pasan atau tidak punya modal sama sekali, menjadi takut untuk mencoba. Penulis harus punya mindset yang jelas untuk mengarahkan/memotivasi pembaca agar mencoba untuk memulai sebuah bisnis. Lihatlah proses seseorang yang masa mudanya memang dihabiskan untuk membanting tulang dalam merintis usaha bisnisnya, meski harus jatuh bangun sampai bangkrut, bukannya hanya melihat dari sisi kesuksesan/keberhasilannya menjadi semata.

Dalam berbisnis memang hanya ada 2 jalan ke depan. Yang pertama, harus bangkut, atau yang kedua, bisa dan maju berkembang. Tapi dengan kemauan, kejelian melihat pasar, rencana yang disusun matang dan fokus dalam bekerja, setidaknya bisa membuat peluang untuk menjadi sukses lebih besar ketimbang peluang untuk bangkrutnya. Semua orang tentunya bisa menjadi pengusaha, tetapi tidak semua pengusaha itu adalah entrepreneur.

Kesimpulan : Lebih baik menjadi kepala SEMUT daripada menjadi ekor GAJAH

12 komentar:

Zippy mengatakan...

Kalo itu mah udah kaya dari sononya ya :D
Jadi bukan entrepreneur sejati :D
Pengen sih buka usaha sendiri.
Tapi masih ragu2 dan belum punya modal, wkwkwkw :)))

nicamperenique mengatakan...

walah ... salah kaprah jadinya ya?
iyalah, klo anak bos2 mah udah setengah mateng, udah disokong modal dan koneksi sm orang tuanya.

setuju, yang entrepreneur sejati itu ya yang memulai usahanya dari NOL dan modal dengkul, seperti saya ini hehehe ... *sok iya*

@zippy : buka usaha itu modal pertama harus YAKIN, klo soal modal DUIT mah TIDAK HARUS kok. pengalaman pribadi ini hehehe

Anonim mengatakan...

saya se-7 dengan pandangan diatas.
sebagai seorang wartawan, dia tentu harus punya tujuan dalam PENULISAN ARTIKEL, yaitu memotivasi para pembaca agar dalam meniru/mencontoh dari ybs yang dimuat dalam koran.

Kalo seperti yang dimuat itu mah, sama saja kayak profile sukses seseorang (BUKAN ENTREPRENEUR!)

Sam Rinaldy mengatakan...

Orang tua saya membuka usaha Kripik... Dan masih kendala modal (T^T dan bahannya agak susah sekarang (T^T

Frendli Wirnawan mengatakan...

kalo udah ada warisan keluarga untuk diteruskan itu mah udah kaya... udah gak menarik sama sekali untuk ditulis

sanman mengatakan...

@ zippy : memang, berbisnis setidaknya perlu modal. ada yang bilang, tanpa modal bisa berbisnis, itu betul juga, cuma harus kreatif.

@ nicamperenique : betul, itu lebih mirip profile seseorang ketimbang sisi entrepreneurnya...

@ Sam Rinaldy : sukses aja bro!

@ Frendli Wirnawan : betul, mungkin bisa dimuat, tapi dalam rublik/tajuk "profile pengusaha", bukan entrepeneur. Karena TIDAK SEMUA PENGUSAHA ADALAH ENTREPRENEUR...

Zhang mengatakan...

Mungkin penulis artikel tidak mau repot-repot melakukan riset dan investigasi. Jadi penulis hanya bertujuan agar artikel bisa cepat selesai.

BlogS of Hariyanto mengatakan...

setuju mas bro..kalau-pun mau diulas dan dijadikan berita..haruslah lebih detail lagi..lengkap dengan sudah berapa kali dia mengalami jatuh bangun dalam berusaha...bukannya kesuksesan-nya saja yang dijadikan berita :)

sanman mengatakan...

Itu berarti penulisnya gadungan donk..haha
cari gampang aja.

Anonim mengatakan...

Kita orang Manado le bro. Memang yang kita baca dari itu rublik better generation, so nda butul komang.

Masalahnya, itu rublik dorang tujukan/khususkan for anak2 muda. Nah, kalo yang dorang muat itu cuma anak2 bos, yang torang boleh mo contohi yang mana? Apa torang berdoa2 jo supaya mo dapat papa/mama kaya?

Bang Oi mengatakan...

Menurut gue sih.
ada benernya.
terkadang orang bangga bisa menjadi pengusaha tetapi usaha nya di dapat dari orang tua nya.
lebih berasa kesuksesan tu ketika usaha yang kita mulai dari 0 bisa menjadi hebat.

Salam hangat selalu

klipingkita mengatakan...

hiihihih... sama juga sih menurutku entrepreneur sejati, bagaimana pun awal dia memulai, sebagai anak bos yang punya segalanya, atau sebagai orang yang dulunya gak punya "apa apa",

intinya sama kok, yang pandai mengelola bisnis dan keuangan, sukses dalam karirnya..

nah dia sukses karena orang tua atau usaha sendiri , itu yang perlu di lihat, betul gak?