05 Juni 2012

Antara Pengusaha Vs Pegawai

Banyak diantara kita yang mendambakan ingin mempunyai usaha sendiri, karena walau bagaimanapun setiap orang selalu menginginkan sesuatu yang lebih. Namun masalah yang dihadapi sekarang ini adalah peluang untuk bisa membangun bisnis sendiri memang tidaklah mudah, bayangkan saja apabila kita menghitung-hitung untuk modal awal saja rasanya pikiran ini sudah membuat dompet kita kembang kempis. Belum lagi memikirkan cara membuat produknya, membangun marketnya dan lain-lain, sehingga tidak mengherankan apabila banyak diantara kita yang memilih menjadi pegawai saja, karena dengan menjadi pegawai/karyawan setiap bulan pasti dapat gaji.

Berapa banyak orang tua yang mengarahkan anak-anaknya untuk menjadi pengusaha. Bandingkan dengan orang tua yang menyuruh anak-anaknya agar bercita-cita jadi pegawai. Melihat budaya masyarakat kita, memang sepertinya opsi kedua yang lebih banyak. Kebanyakan dari kita menginginkan anak-anak agar punya cita-cita dengan profesi-profesi yang dianggap lebih menjanjikan ketimbang jadi pengusaha.

Begitulah didikan kita sejak kecil. Pola berpikir (mindset) kita sudah terbiasa dengan bercita-cita untuk menjadi dokter, pilot, PNS, insinyur, dan profesi lainnya. Tapi jarang, bahkan dulu hampir tidak ada pendidikan yang mengarahkan kita untuk menjadi pengusaha. Paling-paling kita disuruh untuk menciptakan lapangan kerja. Tapi di sisi lain kita tidak pernah dibimbing untuk tahu bagaimana caranya menciptakan lapangan kerja.

Lulus sekolah atau lulus kuliah adalah ajang dimulainya menyebarkan surat lamaran. Ratusan lamaran pekerjaan dikirimkan ke berbagai perusahaan. Bahkan rela mendatangi satu demi satu perusahaan-perusahaan itu. Tak jarang yang mereka yang diusir security yang bosan menghadapi pertanyaan lowongan kerja.

Maka dari itu, jalan terbaiknya memang dengan berani untuk melakukan terobosan atau membuka usaha sendiri. Karena dengan mempunyai usaha sendiri berarti kita mempunyai peluang untuk bisa meningkatkan pendapatan bulanan kita, walaupun memang dibutuhkan waktu dan usaha serta doa untuk menggapainya. Tetapi dapat dipastikan apabila dengan berusaha sendiri maka, kita akan memperoleh hasil yang sesuai dengan usaha yang kita lakukan.

Resiko bangkrut adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan masyarakat usia produktif enggan memilih menjadi wirausaha. Bahkan tidak sedikit pula dari mereka yang beranggapan bahwa membuka usaha sendiri hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang terlahir dari keluarga kaya, yang bisa meminta modal seenaknya kepada orang tua. Padahal, untuk menjadi seorang wirausaha, anda tidak melulu harus punya uang/modal, bahkan hanya dengan modal ide gagasan kreatif dan inovatif pun anda sudah bisa menjadi seorang wirausaha dengan cara menjual ide anda, atau joint dengan orang yang mempunyai modal, atau meminta pinjaman dari pihak bank/penyandang dana dengan bunga rendah. Yang penting adalah kemauan, serta jangan malu untuk memulai sebuah usaha dari kecil. Bahkan seandainya usaha anda tetap kecil, buatnya 10 usaha kecil lainnya yang serupa, maka anda akan menerima keuntungan 10x lebih banyak.

Semua bidang usaha pasti memiliki resiko. Bahkan saat kita menjadi karyawan sekalipun ada resiko pemotongan gaji atau di pecat. Tapi apakah kemudian kita harus menyerah sebelum berperang? Jawabnya tidak. Resiko usaha bisa diminimalisir di-manage dan diprediksi sebelumnya melalui perencanaan yang matang. Selain itu, membuka usaha dengan cara patungan juga bisa meminimalisir resiko karena hutang-hutang perusahaan saat bangkrut akan ditanggung bersama-sama.

Lalu, apa bedanya Pengusaha dan Karyawan?

Ada karyawan yang bilang kalau menjadi pengusaha itu lebih enak. Penghasilan lebih besar, nggak terikat dan diatur-atur sama atasan. Tapi ada juga pengusaha yang berpikir kalau jadi karyawan itu lebih enak. Kalau jadi karyawan tidak perlu pusing memikirkan perusahaan, gaji pekerja, dan lain-lain. Lalu apa bedanya kalau begitu?

Jadi karyawan memang lebih enak kalau gajinya besar. Penghasilan tetap dan keamanan ekonomi keluarga terjamin. Itu kalau gajinya besar. Kalau gajinya kecil, tentu beda lagi. Jelas karyawan akan pusing juga. Belum lagi ditambah tekanan perusahaan agar bekerja lebih baik. Begitu pun kalau jadi pengusaha. Pengusaha tentunya akan sangat enak kalau usahanya maju dan stabil. Tapi pengusaha yang sering pontang-panting dan pailit, tentunya juga bisa membuat pusing.

Dari segi mental sendiri, kalau karyawan mentalnya selalu penuh dengan hitung-hitungan. Misalnya, karyawan baru akan kerja kalau digaji. Karyawan juga baru mau menjalani lembur kalau ada uang lembur. Semua perkerjaannya jadi tidak maksimal karena terbebani dengan gaji. Apalagi kalau gajinya kecil, yang ada karyawan jadi sering ngedumel ketimbang meningkatkan kualitas dan kuantitas kerja. Selain itu, karyawan sendiri umumnya miskin kreativitas dan inovasi, karena ruang lingkupnya dibatasi oleh posisi/jabatannya dalam perusahaan itu sendiri, atau bisa jadi karena sudah dipatron oleh pola perusahaan itu sendiri.

Kalau pengusaha mentalnya mental bebas. Tidak ada kontrol dan sistem yang bisa mengatur dirinya. Yang mengontrol dan mengatur dirinya, hanya dirinya sendiri. Pengusaha bekerja karena ia merasa memang harus kerja. Dia lembur karena memang dirinya harus lembur. Segala yang dia kerjakan dengan penuh kepuasaan dan kesenangan. Apapun yang dikerjakan orang dengan suka hati, maka hasilnya pun akan lebih maksimal daripada orang bekerja karena tekanan-tekanan.

Tapi memang mental kebanyakan orang ialah ingin cari aman. Tentu saja kalau mau cari aman harus dengan cara mendapatkan gaji yang tetap setiap bulan. Selain itu bisa menjalani masa tua dengan tenang karena mendapatkan uang pensiun. Tapi perlu diketahui kalau karyawan itu tidak bisa berkembang jauh. Kalau pun bisa berkembang, perkembangannya terbatas. Kalau pengusaha, ia bisa bebas berkreasi. Bisa berkembang dengan perkembangan yang tanpa batas.

Berikut beberapa point perbandingan antara Pegawai Vs Pengusaha :

Pegawai

1.Gaji tetap tiap bulan, bisa diharapkan.
2. Tinggal kerja saja tidak perlu banyak berpikir.
3.Bekerja penuh tuntutan dan tekanan.
4.Bekerja diawasi atasan.
5.Selalu ada resiko pemotongan gaji, PHK dan pensiun dini.

Pengusaha

1.Tidak memiliki gaji tetap, bahkan bisa tidak ada sama sekali.
2.Disamping bekerja ia harus berencana dan berpikir kreatif.
3.Bebas menentukan tujuan yang ingin dicapai.
4.Diri sendiri adalah atasan, bawahan. Dua dalam satu.
5.Tidak ada istilah pemotongan gaji, PHK atau pensiun.

Bagaimanapun, keputusan untuk menentukan langkah ada di tangan anda sendiri, apakah mau menjadi pegawai atau berwirausaha. Menjadi pegawai demi mendapatkan pengalaman sah-sah saja. Namun, merintis usaha juga bukan hal yang mustahil asal dilakukan dengan sungguh-sungguh...

17 komentar:

Izeyo mengatakan...

Artikelnya mantap sekali bos. :)

Sam Rinaldy mengatakan...

Orang tua saya lebih memilih jadi apapun yang saya suka, tapi menjanjikan?

Mereka menyarankan jadi pengusaha (^ ^
Karena memang orang tua saya pengusaha

Ferdinand mengatakan...

Itu kenapa waktu masih jadi Freelancer dulu, banyak yang bilang aku pengangguran haha... aku sih maklum aja lha wong cara pandang orang beda2, mungkin banyak yang lebih suka ngeliat orang kantoran ketimbang pengusaha atau bahkan Freelancer :)

Moch. Arif Efendi mengatakan...

gimana kalau siangnya menjadi pekerja and malamnya pengusaha

sanman mengatakan...

Ide bagus, Arif Efendi.
Masalahnya apa kita kuat dengan rutinitas seperti itu? Bisa-bisa 2 bulan masuk RS karena liver/kecapean.
Lalu, siapa yang menjalankan bisnis kita di siang hari? ini juga bisa berakibat tidak konsistennya usaha kita karena kurang fokus.
Begitu pun pas kita kerja di kantor, pikiran malah melayang2 masalah usaha di rumah...
hahaha

rifky mengatakan...

maksih banyak om infox..ane baca sampai habis menarik artikelx.
Yap walaupun Saya baru 15th kls3smp Tapi saya bertekat deh suatu saat nanti jadi pembisnis/pengusaha karna penggen bahagiakan orto + lapangan keja sekarang susah amit, Orang lulusan sekolah/kuliah luntang lanting pengangguran..Ya semoga saja entar kedepan nabis saya hoki :D makin sukses om.

sanman mengatakan...

Sukses buat kamu ya!
saya senang bisa menginspirasi orang lain untuk berkarya, ciptakan lapangan kerja, minimal untuk diri sendiri dulu, kalo brkembang baru buat orang lain.
tidak perlu berebut masuk sebagai pegawai berdasi, karena buat apa sekolah tinggi2 kalo akhirnya toh jadi bawahan orang di perusahaan?

Anonim mengatakan...

Mau jadi karyawan ataupun pengusaha sama2 bagusnya, asalkan fokus...

Karyawan gaji 50 - 100jt juga ga mustahil, Pengusaha pendapatan segitu juga bukan mustahil juga.

Entah jadi karyawan atau pengusaha yang penting adalah cara menyisihkan pendapatannya untuk memperbesar Aset yang bisa menghasilkan passive income..

contoh :
- Beli Frenchise yang terbukti (Alfamart, indomart, dsb)
- Beli Kost-kost'an
- Beli Rumah
- Beli Emas / logam mulia
dll

Dari Aset tersebut pastinya akan ada income tambahan yang dinamakan passive income..

Apps Freeware mengatakan...

pengen jadi PNS Gan Bisa korupsi uang Plus waktu Bisa dateng telat pulang cepat bolos kerja lagi..heee keburukan pns semua nih ane sebutin

Anonim mengatakan...

hari gini korupsi..ckckckckck...kerja keras dan halal aja..supaya berkah

AMROGROUP mengatakan...

HIDUP PENGUSAHA MUDA INDONESIA

flame dragon mengatakan...

kalo menurut ane mending jadi karyawan dulu selama 2 tahun lah buat pengalaman, mau jaga toko, pelayan kafe atau apalah, malah kata bapak ane paling mantep latihan jadi sales asuransi,kesabaran ente di latih di situ, trus jangan menikah dulu kalo ente belum mantep usahanya dah, kan keuntungan bisa buat ente ngembangin usaha, makan numpang sama emak. coba kalo ente punya banyak tanggungan, baru bikin istri minta ini itu anak sekolah, repot brow

Kido mengatakan...

Yang pasti, kalo jadi pengusaha, mau tidur pun masih berpikir untuk kemajuan usaha, hahaha

Anonim mengatakan...

Go pengusaha!

cuhen mengatakan...

maunya jadi pengusah aja saya mh

neni prasetya mengatakan...

Aku msih bingung harus pilih yg mn, soal y bpk sy pengusaha tpi hampir mau bangkrut,sy hrus g mn ? Mhon bantuan.y

Herman Tan mengatakan...

Terserah neni maunya gimana. Semua sama-sama bisa sukses kok. Ku doakan yang terbaik buat neni.