17 Juni 2012

Warnet Menjamur Lagi?

Warnet menjamur lagi? what? Ya, itulah kenyataannya yang terjadi. Ditengah tumbangnya satu persatu warnet lantaran kehabisan pengunjung dan persaingan dengan membanjirnya laptop All in One, yang sudah bisa konek internet via modem, hp, flash, atau HP canggih yang sudah dapat terkoneksi internet murah dengan layanan kartu GSM/CDMA selular, usaha warnet masih saja diminati.

Ini dibuktikan dengan akan segera beroperasinya salah satu warnet menengah (20-40 unit/PC) di kotaku. Tapi, lokasi yang akan ditempati menurutku kurang strategis, karena hanya berada di depan jalan raya saja, tanpa ada sumber trafik/pengunjung tetap, seperti sekolah, kampus, tempat kursus/les, dsb, yang memungkinkan untuk regenerasi pengunjung (penting sebagai penyeimbang titik jenuh). Hal ini mungkin masih kurang dipahami oleh orang awam. Artinya, pengunjung "dadakan" akan lebih mendominasi dan itu berbahaya untuk omzet hariannya yang akan sering berfluktuasi.

Sebenarnya usaha rental Warnet tidak akan mati, selama pengelolanya memang paham betul maintenance-maintenance yang akan terjadi, seperti gangguan Listrik, gangguan Koneksi, Izin tempat usaha, perkembangan game-game online terbaru, perkembangan speck yang akan dipakai mengikuti tuntutan game-game terbaru yang menuntut high performance (Monitor, VGA, HD, dsb), troubleshoot komputer (hang, virus, pacth game, install software, dsb) dll. Artinya, harus ada antisipasinya, kalau perlu dibuatkan semacam SOP.

Meski tidak akan mati, tapi membuka warnet di "era" sekarang menurutku = bunuh diri! Kenapa? Ongkos TDL per 2011 sudah cukup mencekik leher dan konon katanya diawal tahun 2013 tarif TDL Flat (untuk semua golongan) akan naik >10%. Belum lagi harus bayar honor OP (operator) nya yang paling tidak harus menyesuaikan dengan UMP, kecuali mau jaga sendiri 24 jam, ya wes silahkan kalo kuat, hihi. Ini belum termasuk kalo minjam uang bank (kredit) dan ongkos sewa gedung (kalo bukan punya sendiri). Masih ada lagi maintenance kalo ada speck komputer yang rusak atau minta ganti alat, panggil teknisi juga palingan goban (50 ribu). hahaha. Jadi, nih gue kasih bocoran dikit soal rincian pengeluarannya :

1. Beban listrik, untuk > 2200W itu tarifnya sekitar 895 perak per KWH untuk golongan rumah. Beda tipis ma golongan usaha 915 perak per KWH. Jangan lupa hitung juga pemakaian AC nya yang biasa berdaya 690 W - 880 W untuk 1 PK, kecuali pake tenaga matahari, hihihi

2. Beban Koneksi Internet. Ini relatif mau pake apa. Kalo mau murah, pake merk Spetod. Ambil 2 link (2 MB) kalo unit diatas 15. Nah, biasanya warnet pake proxi atau "partisi" bandwith/kuota biar jaringannya bisa dibagi-bagi per unit. Tapi lihat aja ntar banyak pengunjung bakal protes kalo situs YouTubenya gak kebuka, atau DL nya lemot, atau load halaman browsernya memble. Ingat, partisi itu tujuannya agar KONEKSI TIDAK SALING TARIK MENARIK, DAN INI TUJUANNYA AGAR YANG MAIN GAME TIDAK LAG SAAT ADA YANG MELAKUKAN TARIKAN (DL/NONTON FILM). Tapi kalo nekad, resiko ditanggung sendiri. Ingat, game online tiap minggu melakukan pacth berkala. Silahkan nungguin tuih pachnya sampe selesai kalo jaringannya sudah di partisi, apalagi kalo pake DF, cape deh. hehehe. Sebenarnya partisi bandwith juga bermanfaat, kalau pengunjung banyak yang melakukan DL file, apalagi yang menginstall software khusus sejenis IDM. Tapi itu sebenarnya bisa dilarang atau dipakai peringatan.

3. Honor Operator (OP). Kalo di daerahku, per 6-8 jam sehari dan bertugas full 6x seminggu itu biasanya Rp.600 ribu sampai Rp. 850 ribu. Mengikuti jumlah unit dan kecakapan OP nya seberapa paham trouble shooting komputer.

4. Ongkos sewa gedung. Ya, meski gedung punya sendiri, tapi kalo untung bersih sebulan sisa dua juta, mending disewain aja gedungnya ketimbang pake sendiri. Istilah ekonominya, opportunity cost gitu (biaya kesempatan).

5. Pinjaman Modal Bank. Ini relatif juga, kalo modal sendiri okelah, gak kena bunga, tapi bukan berarti TIDAK PERLU ADA PENGEMBALIAN MODAL, betul gak? dimana-mana asset = kewajiban (liability) + modal (equity). Palingan, bebas bunga bank dan bebas dari kejaran setoran bulanan ke bank. CMIIW yah soalnya rada-rada lupa juga waktu kuliah dulu, hehe

6. Speck komputer. Ini relatif, kalo komputer di built in game or not. Kalo komputer di built full game, sekarang rate nya di 4,5 juta (daerah Jawa). Kalau luar P. Jawa, nambah ongkos kirim, dan sudah lewat tangan ke 2, ya paling nambah 10-20%.

Nah, masalahnya, tarif sewa dulu dengan sekarang, beda. Didaerahku, sempat harga sewa internet Rp. 6 ribu per jam (bahkan lebih tergantung service dari NET nya), dan harga sewa game Rp. 4 ribu per jam. Sekarang? bahkan ada yang sudah pukul harga sampai sisa 1/2 dari harga diatas. Untungnya dari mana coba. Betul, harga speck komputer dulu dengan sekarang udah beda (lebih murah). Tapi, dari aspek lainnya (listrik, koneksi, harga sewa gedung rate, kredit, gaji operator) tidak ada yang turun, malahan naik, jadi tetap saja nihil.

Kesimpulan, kalo mau jadikan usaha inti (core), kusarankan jangan. Sayang investnya. ROI sekarang tidak secepat dulu, yang hanya makan 1-1,5 tahun. Mungkin sekarang butuh 3,5 tahun baru balik. Artinya kondisi komputer sudah tidak layak lagi, dan harus dilakukan rebuilt lagi. Mending duitnya diinvest ke usaha lain, seperti bengkel motor/mobil yang gak da matinya (menurutku), atau diinvest saja ke saham perusahaan. Kalo mau dijadikan usaha sampingan atau pendamping, it's okelah. Asal tau cara buka dan kelolanya. Kalo ada kenalan saudara tau teman yang ngerti, lebih bagus, tapi hati-hati dikadalin. Oh ya, for info, akhir-akhir ini marak swepping yang dilakukan polisi atau pamong praja soal kasus penertiban siswa berseragam di tempat-tempat keramaian pada jam sekolah. Seperti pada gambar dibawah ini. Kalau tidak mau "damai", pemiliknya bisa kena sanksi sampai penutupan tempat usaha lho.

Terlihat pada gambar, 4 anak berseragam sekolah malu menutup wajah karena difoto oleh seorang polisi.

8 komentar:

nicamperenique mengatakan...

emang klo nyerahin urusan teknis ke orang lain, rada serem, blum lagi berat di biaya servis. paling enak, klo bisa ngerjain software dan hardware sendiri.

berarti rata2 emang segitu ya gaji OP, di sini sih 900rb per 10 jam + 2 off / bulannya. Kalau lembur sampai 16jam kerja sampai juga sih 1.5jt sebulannya.

btw di situ rame ketikan gak pak? terus op nya yang ngerjain dan hasilnya kasih ke dia juga gak? di sini sih gitu, jadi yaaa sampingan juga buat mereka sih.

menurut saya sih, emang sekarang ini udah gak tepat lagi buka usaha warnet, melihat jumlah warnet yang sudah melebihi kebutuhan masyarakat. apalagi kalau gedungnya nyewa kayak kami ini hiyyyy serem lah pokoknya mas.

sanman mengatakan...

Waduh, didaerahku sudah egk ada lagi tuh jasa ketikan mas/bro. Kecuali dekat2 kampus, Soalnya sekarang laptop 1 juta udah dapat, mau cari yang bekas, 500 ribuan juga dapat merek Axio.

Wah kalo gedung sewa, mesti kerja keras lagi, hehe. Bisa gak balik-balik ROI nya kalo mau buka sekarang.

Stupid monkey mengatakan...

iya yah sob, tapi wajarlah kalau dulu semarak dan sekarang menyurut, pan harga kompi sama modem juga udah jatoh amblas blas :D

pututik mengatakan...

tapi lambat laun warnet harusnya berinovasi misalnya memberikan layanan kabel LAN atau Wifi dengan waktu tetap. karena metode konvensional akan semakin ditinggalkan akibat murahnya gadget. oya mengenai anak2 yang berkunjung di jam kelas ya harus ditertibkan dari sisi pemilik warnet, kalo gak boleh ya gak boleh, jangan hanya ngejar untung.

Amelia mengatakan...

Baru paham hitung2an bisnis warnet. :)

sanman mengatakan...

Kalo ada yang mau konsultasi warnet, tukar2 pandangan, bolehlah saling share. Saya siap bagi2 tips dan pengalaman juga.

Semoga usaha warnet dapat terus eksis mengikuti perkembangan zaman. Tapi tentunya ini tidak termasuk bagi warnet baru ya, hehehe

Anonim mengatakan...

Beda tempat, beda pengalaman, di tempatku di Jeneponto Sul-Sel, bisnis wrnet sangat potensial untuk berkembang. Ini dilihat dari panjangnya antrian di beberapa warnet. Maju terus warnet Indonesia...Alif-Net

Cebe mengatakan...

kalo saya pemilik warnetnya, akan saya larang anak sekolah bermain pada jam sekolah. apalagi anak SD, mungkin kalo anak SMA tidak terlalu berbahaya karena biasanya anak SMA lebih cerdik dalam bidang membolos nya.