06 Desember 2012

Kematian Diego Mendieta, Bukti Carut Mawutnya Kompetisi di Tanah Air

Mendiang Diego Mendieta
Kematian salah satu legiun asing, Diego Mendieta, sudah membuktikan bagaimana carut warutnya keadaan persepakbolaan di tanah air, dimana gaji pemain asing saja ditahan 4 bulan oleh klub Persis Solo (ISL/liga tandingan). Nanti pemain sudah mati, baru gajinya mau dilunasi oleh klub (itupun karena dipaksa oleh Walikota Solo saat ini, Hadi Rudyatmo) dan biaya pengobatannya di rumah sakit ditanggung 100% oleh pemerintah Solo.

Gaji dari Diego berjumlah 131 juta dengan rincian gaji/bulan Rp 21 juta ditambah dengan sisa kontrak yang sebesar Rp 47 juta, akan di transfer ke istrinya langsung yang berada di Paraguay. Sementara uuntuk pemulangan jenazah Diego sendiri akan diberangkatkan ke jakarta sekitar pukul 16.00. Setelah itu, jenazah akan diserahkan kepada pihak kedutaan besar Paraguay untuk Indonesia lalu dipulangkan ke Paraguay.
 
Menurut saya, sudah selayaknya pemerintah Indonesia segera ikut campur tangan atas masalah yang terjadi di PSSI, dengan menghentikan segala aktifitas yang ada. Tujuannya agar supaya FIFA segera membekukan induk sepak bola PSSI agar persepakbolaan kita "cooldown" sejenak untuk sementara waktu, sambil menunggu pembenahan intern dilakukan, termasuk masalah yang paling utama, yakni pembenahan kompetisi (penyatuan) beserta seluruh aturan-aturannya.

Lihat saja, semenjak ganti ketua umum yang baru, Djohar Arifin, prestasi Indonesia makin memburuk. Rentetan hasil buruk di timnas, dimulai dari kalah memalukan 10-0 dari Bahrain yang menurut saya sudah pasti ada "permainan" namun ditutup-tutupi, lalu gagal total (gatot) di ajang Piala AFF 2012 baru-baru ini, kisruh dualisme kompetisi, sampai pada akhirnya kasus pemain meninggal akibat gaji tidak dibayar.

Memang betul, klub Persis Solo sendiri bermain di liga LSI, liga "amatir" nya milik KPSI. Tetapi tetap saja tanggung jawab "moral" tetap ada pada induk organisasi sendiri. Dunia akan tetap menyoroti kinerja PSSI karena dianggap tidak mampu melindungi pemain yang bermain di liga negaranya, baik amatir maupun resmi. Nah, masalahnya sekarang PSSI pun seperti kelihatan tidak berdaya melawan KPSI yang juga sama-sama keras ingin agar kompetisi LSI nya diakui.

Jadi sudah tepatlah agar pemerintah (lewat KONI/Menpora) menjadi penengah atas masalah ini, agar kedua pihak sama-sama rugi, demi mencegah jatuhnya korban jiwa lagi, serta tanggungan malu akibat timnas yang tidak maksimal. Saya rasa kita sebagai masyarakat dan suporter juga tidak mau melihat timnas garuda kita yang selalu kalah melawan lawan-lawannya bukan? Buat apa nonton timnas begituan karena tidak maksimal? Mending cooldown dulu.


1 komentar:

Sandi Nugraha mengatakan...

kapan ya sepak bola indonesia maju .. ngimpi ga ya..??