18 Maret 2013

Bahaya Kartu Kredit di FOTOCOPY

Bagi yang suka kasih fotocopy kartu kredit, mohon agar lebih berhati-hati. Saya sarankan agar selain di fotocopy oleh pegawai di dalam lokasi bank ybs (yang mengeluarkan kartu kredit tersebut) kartu kredit anda jangan dikasih fotocopy ke orang/lembaga/perusahaan penawar jasa kredit yang lain. Kemarin saya ada pengalaman, di mana salah satu mall terbesar di kota saya yang bekerja sama dengan salah satu bank terbesar pemerintah dalam hal kupon/undian.

Jadi begini, bagi siapa yang belanja dengan nominal 100 ribu berlaku kelipatannya, akan mendapat 1 lembar kupon undian. Tapi jika transaksi menggunakan kartu kredit keluaran dari Bank A (salah satu bank terbesar pemerintah itu), bisa mendapat 3 lembar kupon undian sekaligus. Tapi syaratnya, KTP dan Kartu Kredit dari konsumen harus di fotocopy sebagai bukti pengambilan kupon undian. Nah, bukti fotocopy itu disimpan oleh penjaga counter (mungkin pegawai/staff bank ybs). Nah masalahnya, kita kan engga tahu siapa nama pegawai tersebut, apa jabatannya dalam bank, atau bisa saja dia dipecat besok. Mereka yang jaga counter penukaran kupon undian juga setiap hari berganti-ganti orang. Bisa jadi mungkin hanya mahasiswa magang? hahaha. Akan sangat rawan menyerahkan seluruh identitas kita ke mereka.

Bagi orang awam, pasti berpikir, selama kartu kredit asli masih di tangan, dan PIN nya tidak diberikan, pasti tidak akan apa-apa (dijebol/dipake orang). Pola pikir seperti itu harus diubah. Sekarang, dengan hanya menggunakan nama yang tertera di kartu kredit, nomor kartu kredit, batas aktif kartu (bln/thn), dan 3 angka dibelakang kartu, anda sudah bisa belanja online di internet. Misalnya beli tiket pesawat, beli/sewa nama domain atau server, belanja di shop/toko online yang menjual berbagai macam barang, yang menyediakan layanan kartu kredit Visa atau Master Card, dsb. Bagi blogger dunia maya, pasti sudah tak asing lagi nih, karena pasti biasa menggunakan kartu kredit untuk keperluan renew atau beli nama domain dan hosting. Tentulah identitas dalam kartu kredit akan sangat dirahasiakan.

Sebenarnya ini juga adalah salah satu kelemahan pihak bank. Kenapa? Karena transaksi online/dunia maya mungkin tidak sampai 1% dari total seluruh transaksi nasabahnya. Jadi dianggap soal kecil. Ada juga beberapa bank yang sekarang sudah memberlakukan sistem respon balik, dimana apabila ada transaksi dari belanja online salah satu nasabahnya, maka akan dikirim SMS atau di telepon dari pusat, untuk konfirmasi betul atau tidak. Ini sebenarnya sangat baik, untuk mencegah penggunaan dana yang tidak kita kehendaki. Saya sarankan juga pihak bank untuk lebih ketat mengontrol transaksi dunia mayanya, jangan kecewakan dana nasabah.

Bagi sekarang yang masih berpikir untuk tidak apa-apa menyerahkan data identitas kartu kreditnya kepada orang lain, ini saya tantang anda sekarang, tulis di kolom komentar di bawah ini, jenis kartu kredit (visa/master), nama lengkap di kartu kredit, nomor kartu kredit, batas bulan/tahun aktif, dan 3 angka terakhir dibalik kartu kredit anda. Kan kartu aslinya masih di anda, PIN nya di anda. Jangan menangis ya nanti, atau mau lapor polisi, karena kejahatan cyber crime (kejahatan dunia maya) juga masih sangat sulit dilacak, apalagi kalau pelaku menggunakan identitas palsu.

2 komentar:

Griya Kuliner mengatakan...

Jangankan di fotocopy, isi2 kartu kredit jika diketahui orang lain aja sudah bisa dipakai untuk hal2 yang tidak diinginkan. :)

sanman mengatakan...

hahaha...
betul bro.